Ekspor Melonjak, Mendag Budi Optimis Neraca Perdagangan RI Bakal Membaik

Mendag Budi Santoso (Tengah)
Sumber :
  • Antara.

VIVA – Menteri Perdagangan, Budi Santoso, mengaku optimis bahwa neraca perdagangan Indonesia akan membaik pada awal semester II-2026 atau bulan di Juli, menyusul kinerja ekspor yang terus menunjukkan tren positif.

img_title Garuda Indonesia Catat Pendapatan Tumbuh 16 Persen Semester I-2026, Kinerja Menguat

“Bulan Juli ini harapan kami defisitnya menjadi tidak ada, karena kalau kita lihat (komoditas) non-migasnya kan selalu surplus," kata Budi di Jakarta, Senin, 17 Agustus 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Non-migas dan pertumbuhannya kan selalu naik. Pertumbuhan ekspor kita Januari-Juni kan juga naik,” ujarnya.

img_title IPC TPK Cetak Kinerja Positif hingga Agustus 2026, Catat Pertumbuhan Volume Petikemas 8,37%

Aktivitas di Terminal Peti Kemas (TPK) Pelabuhan Tanjung Emas Semarang

Photo :
  • ANTARA FOTO/Aji Styawan

Budi menyebut, defisit neraca perdagangan pada Juni 2026 sebesar US$0,45 miliar, membaik dibandingkan defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026.

img_title Ibas: Indonesia Bangsa Maritim, Sumber Pangan hingga Perdagangan Ada di Laut

Total ekspor Indonesia pada Juni 2026 baik migas maupun non-migas, tercatat sebesar US$25,46 miliar atau meningkat 9,72 persen dibandingkan ekspor pada Mei 2026 yang sebesar US$23,20 miliar.

Peningkatan ekspor tersebut terutama ditopang ekspor non-migas yang pada Juni 2026 mencapai US$24,39 miliar, atau naik 8,68 persen dibandingkan Mei 2026 yang sebesar US$22,45 miliar.

Di sisi lain, surplus perdagangan nonmigas pada Juni 2026 mencapai US$3,04 miliar. Selain nilai ekspor, Budi juga melaporkan volume ekspor Indonesia juga mengalami peningkatan. Pada Juni 2026, volume ekspor tercatat sebesar 56,52 juta ton, naik 3,31 persen dibandingkan Mei 2026 yang sebesar 54,71 juta ton.

“Jadi, kami optimis ya apalagi nanti kalau kondisinya (geopolitik) semakin membaik, artinya kondisi perang semakin berkurang, harga minyak turun,” ujar Budi.

Dia menilai, salah satu faktor dari defisit neraca perdagangan pada dua bulan terakhir adalah harga minyak dunia yang tinggi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Kemarin faktor defisitnya bulan Mei-Juni itu kan karena pas bulan Maret-April itu harga minyak dunia lagi tinggi-tingginya, sehingga tentu defisit migas kita menjadi lebih besar. Ketika defisit migas kita semakin besar sehingga mengalahkan (komoditas) yang surplus tadi,” kata Budi.

“Nah, ini mudah-mudahan harga mulai stabil sementara ekspor nonmigasnya yang terus bagus,” ujarnya. (Ant).

Ilustrasi VKTR

Penjualan VKTR Tumbuh 56% pada Semester I 2026, e-MaaS Disiapkan sebagai Enabler Adopsi EV

Perseroan mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp648 miliar, atau tumbuh 56% YoY, didukung oleh pertumbuhan bisnis kendaraan listrik komersial yang terus positif.

img_title
VIVA.co.id
1 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut