RI Catat Surplus Neraca Perdagangan US$120 Juta Juli 2026

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono.
Sumber :
  • Dokumentasi BPS.

Jakarta, VIVA – Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan kumulatif periode Januari-Juli 2026 masih mengalami surplus sebesar US$3,70 miliar. Capaian itu diantaranya didukung oleh surplus pada Juli 2026 sebesar US$0,12 miliar. 

img_title Prabowo Soroti Perdagangan Sering Jadi 'Senjata' Beri Tekanan ke Negara Lain: Sektor Keuangan Terpecah-belah

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengungkapkan, nilai ekspor kumulatif Januari–Juli 2026 mencapai US$167,03 miliar, naik 4,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh ekspor nonmigas yang tumbuh 5,21 persen menjadi US$160,01 miliar. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Surplus sepanjang periode Januari-Juli 2026 ditopang oleh kinerja perdagangan komoditas nonmigas yang mencatat surplus US$22,45 miliar, sementara perdagangan komoditas migas masih mengalami defisit sebesar US$18,75 miliar,” jelas Ateng di kantornya, Jakarta, Selasa, 1 September 2026.

img_title Angka Kemiskinan RI Berbeda dengan Bank Dunia, Ini Penjelasan BPS

Berdasarkan sektor, industri pengolahan mencatat nilai ekspor terbesar, dengan nilai mencapai US$137,26 miliar atau naik 7,16 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Adapun tiga negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia adalah Tiongkok sebesar US$40,62 miliar (25,39 persen), Amerika Serikat sebesar US$19,19 miliar (11,99 persen), dan India sebesar US$11,00 miliar (6,87 persen). 

Sementara itu, nilai impor kumulatif Januari–Juli 2026 mencapai US$163,33 miliar, naik 19,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut berasal dari impor nonmigas yang naik 16,78 persen menjadi US$137,56 miliar, serta impor migas yang naik 40,24 persen menjadi US$25,77 miliar. 

img_title RI Dinilai Perlu Transformasi Pelabuhan Internasional, dari Status Based Menuju Performed Based

Menurut penggunaan, impor bahan baku/penolong menjadi komponen impor terbesar, dengan nilai US$116,70 miliar atau naik 20,42 persen. Selanjutnya, impor barang modal mencapai US$32,46 miliar, naik 20,00 persen, sedangkan impor barang konsumsi tercatat sebesar US$14,16 miliar, naik 16,03 persen. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tiongkok masih menjadi negara asal utama impor nonmigas Indonesia sepanjang Januari–Juli 2026, dengan nilai US$58,29 miliar (42,38 persen). Posisi berikutnya ditempati oleh Jepang sebesar US$7,71 miliar (5,61 persen) dan Australia sebesar US$6,47 miliar (4,70 persen). 

Sementara itu, surplus perdagangan nonmigas pada periode Januari–Juli 2026 terutama berasal dari beberapa komoditas utama, yaitu lemak dan minyak hewani/nabati sebesar US$20,96 miliar, bahan bakar mineral US$16,39 miliar, besi dan baja US$10,32 miliar, nikel dan barang daripadanya US$7,08 miliar, serta alas kaki US$3,84 miliar. 

Presiden Prabowo Subianto Hadiri Forum EEF di Rusia

Di Hadapan Putin, Prabowo Minta Gandakan Perdagangan Indonesia dengan Rusia

Prabowo mendorong Indonesia dan Rusia tak berhenti pada pertumbuhan perdagangan yang telah terjadi. Ia mengusulkan menggandakan nilai perdagangan kedua negara.

img_title
VIVA.co.id
3 September 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut