Tren Kerja Berubah, Konsep Perkantoran Konvensional Mulai Ditinggalkan?
- Pixabay.
Jakarta, VIVA – Pandemi COVID-19 mengubah cara perusahaan mengatur aktivitas kerja, mulai dari penerapan kerja jarak jauh hingga pola kerja hybrid yang menggabungkan aktivitas di kantor dan dari lokasi lain. Perubahan tersebut turut mendorong perusahaan mengevaluasi fungsi kantor, yang sebelumnya lebih banyak dipandang sebagai tempat bekerja, menjadi ruang untuk membangun kolaborasi, menjaga budaya organisasi, dan mendukung produktivitas karyawan.
Seiring perubahan tersebut, konsep perkantoran konvensional yang berfokus pada luas ruangan, tata letak, dan biaya operasional mulai menghadapi tuntutan baru. Perusahaan perlu mempertimbangkan bagaimana ruang kerja dapat menunjang kebutuhan karyawan sekaligus memberikan nilai bagi bisnis. Workspace pun mulai dilihat bukan sekadar sebagai beban biaya atau cost centre, melainkan sebagai investasi strategis.
Design Director Studio Yruna, Fayruzka Juanita, menilai perencanaan ruang kerja kerap dimulai dari aspek fisik, bukan dari tujuan bisnis dan kebutuhan organisasi. Kondisi ini dapat membuat rancangan workspace tidak sepenuhnya menjawab tantangan cara kerja yang terus berkembang.
“Dari layout, estetika, luas area, atau budget bukan dari business objectives, ways of working, kebutuhan user, dan kebutuhan organisasi ke depan,” ujarnya di Designed for Life (DFL) Conference 2026, di Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Pandangan serupa disampaikan Managing Director DesignPartners Indonesia (DPI), Naila Djatnika. Menurutnya, penilaian terhadap workspace perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap karyawan dan kinerja perusahaan, bukan hanya tampilan maupun fasilitas fisik.
“Jadi seharusnya dilihat bagaimana workspace itu mendukung produktivitas, kolaborasi, employee experience, wellbeing, hingga business performance,” ujarnya.
Dari perspektif pengelolaan sumber daya manusia, Audya Medina, Head of People & Culture IDN, menjelaskan nilai ruang kerja dapat terlihat dari manfaatnya dalam menunjang kegiatan sehari-hari. “Ketika karyawan dapat bekerja lebih efektif, tim berkolaborasi dengan lebih mudah, people tetap terhubung dengan culture, berbagai aktivitas kerja terfasilitasi, dan workspace mendukung kebutuhan operasional perusahaan,” jelasnya.
![]()
Perubahan cara pandang terhadap ruang kerja tersebut menjadi salah satu topik yang dibahas dalam acara yang diselenggarakan VIVERE Group di The Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta. Konferensi bertema “The Connected Workspace: Built on Culture. Driven by People. Powered by Technology” itu mempertemukan pelaku bisnis, pengguna ruang kerja, desainer, konsultan properti, serta pemangku kepentingan industri.