IHSG Ambruk Hampir 2 Persen, Pengamat Ingatkan Risiko Koreksi Susulan

Ilustrasi papan IHSG.
Sumber :
  • VIVA/Muhamad Solihin

Jakarta, VIVA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan pada perdagangan Senin (12/10/2026). Kombinasi sentimen global dan domestik membuat indeks saham Indonesia melemah hampir 2 persen hingga turun ke bawah level 6.000 pada penutupan perdagangan sesi I.

img_title IHSG Ditutup Meroket 5,65 Persen ke 5.278,89, Nilai Transaksi Tembus Rp25 Triliun

Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama menilai, tekanan tersebut tidak bisa dilepaskan dari sejumlah faktor yang memengaruhi perilaku investor, mulai dari arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat hingga kondisi nilai tukar rupiah dan aliran dana asing di pasar saham.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Pelemahan IHSG hari ini perlu dilihat dari kombinasi sentimen eksternal dan domestik,” ujar Elandry di Jakarta, Senin.

img_title IHSG Rebound 4,16 Persen, Saham Bank Jadi Motor Penguatan di Tengah Aksi Jual Asing

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG melemah 117,98 poin atau 1,94 persen ke posisi 5.975,78 pada penutupan sesi I. Penurunan tersebut mencerminkan tekanan jual yang terjadi di pasar saham di tengah meningkatnya kehati-hatian investor.

Suku Bunga The Fed hingga Rupiah Tekan IHSG

img_title Sufmi Dasco Ahmad Sambut IHSG Bangkit 2,92 Persen, Saham Bank Besar Kompak Menguat

Dari sisi global, pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed). Pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury juga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi aliran modal dan minat investor terhadap aset berisiko di negara berkembang.

Selain itu, risiko geopolitik turut memicu volatilitas di pasar keuangan. Ketidakpastian global membuat investor perlu memperhitungkan potensi perubahan kondisi pasar sebelum mengambil keputusan investasi.

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah dan kemungkinan berlanjutnya aksi jual bersih investor asing atau net foreign sell turut membatasi pergerakan IHSG. “Kondisi ini membuat investor cenderung lebih berhati-hati dan menurunkan risk appetite terhadap aset berisiko,” jelasnya

Kombinasi faktor tersebut membuat arah pergerakan pasar saham masih rentan terhadap perubahan sentimen. Investor juga perlu memperhatikan perkembangan nilai tukar dan arus dana asing untuk melihat apakah tekanan jual masih berlanjut atau mulai mereda.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

IHSG Masih Berpotensi Terkoreksi

Dalam jangka pendek, Elandry memperkirakan IHSG masih berpotensi mengalami koreksi lanjutan. Risiko tersebut terutama muncul apabila tekanan jual investor asing belum mereda dan indeks belum mampu membentuk area support yang kuat.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut