IHSG Ambles 10,76 Persen, 30 Saham Terjun Bebas hingga ARB
- VIVA/Muhamad Solihin
Jakarta, VIVA – Pasar saham Indonesia mengalami tekanan berat pada sesi I perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles 630,77 poin atau 10,76 persen ke level 5.233, setelah bergerak di rentang 5.193–5.404.
Di tengah kejatuhan IHSG, sebanyak 30 saham terjun bebas hingga menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) dan masuk daftar saham dengan penurunan harga terdalam atau top losers. Sejumlah saham yang terkena tekanan jual tersebut di antaranya VKTR, AKRA, SSIA, FORU, hingga CBDK.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 38,67 miliar lembar saham diperdagangkan sepanjang sesi I dengan nilai transaksi mencapai Rp17,33 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 1.354.139 kali transaksi.
Tekanan jual terlihat dari dominasi saham yang melemah. Sebanyak 771 saham bergerak turun, hanya 14 saham menguat, dan tiga saham stagnan. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 ikut terpuruk dengan penurunan sekitar 12 persen.
Daftar Saham Terjun Bebas hingga ARB
Sejumlah saham mencatatkan penurunan harga hampir 15 persen pada perdagangan sesi I. Berikut beberapa saham yang masuk daftar top losers dan menyentuh batas ARB:
- MNC Digital Entertainment (MSIN): turun 15 persen ke Rp136.
- VKTR Teknologi Mobilitas (VKTR): anjlok 15 persen ke Rp374.
- Surya Semesta Internusa (SSIA): merosot 14,97 persen ke Rp1.335.
- AKR Corporindo (AKRA): jeblok 14,97 persen ke Rp1.250.
- Fortune Indonesia (FORU): melemah 14,96 persen ke Rp108.
- Bangun Kosambi Sukses (CBDK): turun 14,95 persen ke Rp3.130.
Penurunan tajam pada saham-saham tersebut terjadi bersamaan dengan tekanan besar terhadap IHSG. Kondisi ini mencerminkan dominasi tekanan jual di pasar saham pada sesi pertama perdagangan.
ARB merupakan mekanisme batas penurunan harga saham dalam satu hari perdagangan yang ditetapkan oleh BEI. Ketika harga saham mencapai batas tersebut, penurunan lebih lanjut dibatasi sesuai ketentuan yang berlaku.
Seluruh Sektor Saham Melemah
Pelemahan IHSG juga diikuti penurunan seluruh sektor saham pada penutupan sesi I. Sektor energi tercatat merosot 12,34 persen, sedangkan sektor infrastruktur melemah 12,19 persen.
Sektor barang baku turun 12,15 persen, sektor kesehatan terkoreksi 10,98 persen, dan sektor perindustrian melemah 10,74 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan tekanan tidak hanya terjadi pada saham-saham tertentu, tetapi juga meluas ke berbagai sektor di Bursa Efek Indonesia.
Sebelumnya, IHSG mengalami trading halt setelah indeks dibuka anjlok 8,01 persen ke level 5.393,92. Tekanan pasar terjadi di tengah pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membuka konsultasi mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Standalone Market.
MSCI menyatakan konsultasi akan berlangsung hingga 30 April 2027, dengan keputusan final diharapkan diumumkan sebelum 30 Juni 2027. Rencana tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap prospek investasi di Indonesia, termasuk potensi arus keluar dana asing jika perubahan klasifikasi benar-benar diterapkan.
Lima Saham Justru Masuk Top Gainers
Di tengah kejatuhan mayoritas saham, beberapa emiten justru bergerak berlawanan arah dan masuk daftar top gainers. Lima saham tercatat menguat dengan kenaikan mulai dari 13 persen hingga sekitar 25 persen.
Berikut daftar saham yang mencatatkan kenaikan terbesar pada sesi I:
- Bank of India Indonesia (BSWD): melonjak 25 persen ke Rp5.625.
- Asuransi Bina Dana Arta (ABDA): naik 24,93 persen ke Rp4.710.
- Guna Timur Raya (TRUK): menguat 24,81 persen ke Rp3.220.
- Pioneerindo Gourmet International (PTSP): naik 20,72 persen ke Rp2.010.
- Charnic Capital (NICK): menguat 13,04 persen ke Rp3.120.
BSWD, ABDA, dan TRUK tercatat menyentuh batas auto rejection atas (ARA), yaitu batas maksimum kenaikan harga saham dalam satu hari perdagangan sesuai ketentuan BEI.
Pergerakan yang berlawanan antara saham-saham tersebut dan mayoritas pasar menunjukkan bahwa tekanan IHSG pada sesi I tidak membuat seluruh saham bergerak seragam. Namun, secara keseluruhan, jumlah saham yang melemah jauh lebih besar dibandingkan saham yang menguat.