Sektor Pariwisata dan Proyek Energi Dinilai Dapat Berjalan Berdampingan

Ayana Gedongsongo, Bandungan di Semarang
Sumber :
  • Instagram/ayanagedongsongo

Jakarta, VIVA – Sektor pariwisata yang berdampingan dengan sejumlah proyek-proyek energi, seperti misalnya di proyek PLTP Gunung Ungaran dan kawasan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, dinilai dapat berjalan berdampingan agar potensi keduanya bisa dimanfaatkan secara optimal.

img_title Pertemuan Dewan ASCOPE ke-51 Sepakati Penguatan Kerja Sama Energi Regional, Bekal Hadapi Tantangan Global

Upaya ke arah tersebut tentunya juga harus didukung dengan dialog dan kolaborasi yang baik antarpara stakeholder terkait, serta perencanaan yang mampu menyelaraskan pengembangan energi, pelestarian lingkungan, dan pertumbuhan ekonomi daerah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pengamat pariwisata sekaligus mantan Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Bambang Mintosih menilai, pengembangan panas bumi dan pariwisata perlu ditempatkan dalam perspektif pembangunan daerah yang lebih luas.

img_title Ketahanan Energi RI Bukan Cuma Soal Minyak, Ada 2 Faktor Lain yang Tak Kalah Penting

Menurut anggota Dewan Penasihat PHRI Jawa Tengah itu, kehadiran sumber energi bersih dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat fondasi pembangunan, sementara sektor pariwisata terus mengembangkan daya tarik dan aktivitas ekonomi yang sesuai dengan karakteristik daerah.

"Kuncinya adalah membuka ruang dialog dan urun rembug bersama seluruh pemangku kepentingan,” kata Bambang dalam keterangannya, Jumat (16/10/2026).

img_title Ogah Diatur Negara Lain, Bahlil Buka Opsi RI Bangun PLTN di Dekat Singapura: Mau Taruh di Mana pun, Apa Urusannya?

Dia menekankan, pengembangan pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam, tapi juga perlu didukung diversifikasi atraksi, kreativitas masyarakat, serta penguatan ekosistem usaha lokal.

Dalam konteks tersebut, pengembangan panas bumi perlu dikomunikasikan dan direncanakan secara terbuka, agar berbagai kepentingan dapat dipertimbangkan. Termasuk soal aspek keberlanjutan destinasi wisata dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Seluruh unsur ekosistem pariwisata perlu dilibatkan, mulai dari pengelola destinasi, pelaku perhotelan, pusat oleh-oleh, biro perjalanan, komunitas, masyarakat, hingga pemerintah. Dialog ini penting untuk mengidentifikasi peluang, mengantisipasi tantangan, dan memastikan setiap upaya pembangunan memberikan nilai tambah bagi daerah,” ujar Bambang.

Dia menilai, kawasan Bandungan dan sekitarnya memiliki peluang untuk memperkaya pengalaman wisata, melalui pengembangan wisata berbasis aktivitas dan kreativitas lokal.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Salah satunya adalah sport tourism, yang memiliki prospek positif seiring meningkatnya antusiasme masyarakat terhadap berbagai kegiatan olahraga. Termasuk penyelenggaraan ajang lari, yang dinilai mampu mendatangkan wisatawan lokal maupun asing guna turut menggerakkan usaha lokal setempat.

Selain itu, lanjut Bambang, potensi kopi lokal yang dikembangkan anak-anak muda dan pelaku kreatif, juga dapat diperkuat melalui wisata kuliner, wellness tourism, serta pengalaman wisata alternatif lainnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut