Transformasi IT Berbasis AI Jadi Solusi Perusahaan RI Menuju Autonomous Enterprise
- Istimewa
Jakarta, VIVA - Di balik rutinitas perkantoran, ribuan gerai ritel, hingga hiruk-pikuk kawasan industri manufaktur dan pergudangan seperti Jababeka dan Cikupa, ada persoalan yang jarang disadari pelanggan namun begitu akrab bagi para pemilik bisnis. Yakni perihal software yang dahulu terasa memadai, perlahan menjadi usang seiring pertumbuhan usaha.
Sistem yang digunakan tak lagi sanggup mengimbangi kompleksitas operasional yang kian membesar, sementara satu software kerap tak sinkron dan tak terhubung baik dengan software lainnya.
Solusi yang lazim ditempuh selama ini adalah tambal sulam, dari menambah tenaga kerja, menambah spreadsheet, hingga menambah staf administrasi.Â
Pencatatan pun menumpuk, namun tidak pernah benar-benar dapat dimonitor, ditambah data yang tersebar di berbagai titik yang tak saling terhubung membuat hal ini sulit untuk dianalisa.
Persoalan ini bukan rahasia di kalangan pelaku usaha skala enterprise. Banyak perusahaan menyadari perlunya bertransformasi, namun ragu melangkah. Sebab sistem lama (legacy) terlampau berisiko untuk diubah, dan investasi IT besar yang pernah dicoba kerap berakhir tanpa hasil nyata, meninggalkan trauma tersendiri bagi jajaran pimpinan.
Karenanya, sebagai salah satu besutan artificial intellegence (AI) yang bakal menyelesaikan polemik tersebut, PT Trini Solusi Teknologi (TST) melalui SterlingLabs pun menawarkan solusi transformasi IT berbasis AI.
CEO SterlingLabs, Elroy Hardoyo mengatakan, Indonesia akan tertinggal apabila tidak segera bertransisi menuju autonomous Enterprise, yakni perusahaan yang denyut operasionalnya digerakkan AI secara presisi plus mandiri dan bukan sekadar sistem ERP yang masih sepenuhnya bergantung pada campur tangan manusia.Â
Dia menjelaskan, trend ini telah dimulai di luar negeri, ditandai salah satunya oleh peluncuran SAP Joule Worker oleh SAP. Perbedaan autonomous Enterprise dengan ERP konvensional bukan sekadar soal otomatisasi. Karena ini soal Industrial AI, yang berbeda secara mendasar dari AI publik yang lazim digunakan masyarakat umum.
"Industrial AI dibangun di atas struktur Role Based Access Control (RBAC), keamanan data privat perusahaan, memahami workflow secara presisi, dan mampu beradaptasi cepat terhadap workflow baru," kata Elroy dalam keterangannya, Kamis, 22 Oktober 2026.
"Yang terpenting, ia bekerja dengan hasil yang tepat dan konsisten, bukan jawaban yang bisa berubah-ubah (probabilistic) seperti kebanyakan sistem AI umum, semacam ChatGPT." ujarnya.
Elroy mencontohkan, pengalaman langsung tim pendiri SterlingLabs memimpin transformasi IT, e-Commerce, dan CRM di The Body Shop Indonesia selama empat tahun, telah membuktikan kecanggihan AI tersebut. Kala itu, flow kerja lama dipenuhi inefficiency, dimana setiap sistem berjalan sendiri-sendiri tanpa saling terhubung.
"Satu demi satu sistem dibenahi, dari transaksi di kasir, manajemen stok, data pelanggan, keamanan data, hingga akhirnya ratusan toko The Body Shop di seluruh Indonesia dapat bergerak dalam satu ekosistem yang saling terhubung dan sinkron secara real-time," kata Elroy.
Hasilnya pun signifikan, dimana biaya IT tahunan berhasil ditekan lebih dari 80 persen sementara efisiensi operasional dan margin penjualan justru meningkat. Seusai transformasi inti rampung, tim ini menjadi entitas mandiri untuk mentransformasi entitas-entitas lain di bawah TBS Group, hubungan yang masih berlanjut hingga kini.
"Pelajaran dari TBS Group ini kemudian terbukti berlaku luas. Sistem yang terputus, proses manual, dan data yang tak termonitor bukan cuma masalah ritel, melainkan tantangan yang sama-sama dihadapi sektor manufaktur, pergudangan, hingga korporasi perkantoran di Indonesia," ujarnya.