IHSG Naik ke 5.305, Akankah Penguatan Bursa Saham RI Berlanjut?
- Antara
Jakarta, VIVA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Kamis (29/10/2026), di zona hijau setelah pada perdagangan sebelumnya ditutup menguat. Pergerakan bursa saham kawasan Asia dan sejumlah sentimen global masih menjadi perhatian pelaku pasar di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka menguat 22,89 poin atau 0,43 persen ke posisi 5.305,20. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 2,27 poin atau 0,42 persen ke posisi 541,74.
Pada perdagangan Rabu (28/10/2026), IHSG ditutup naik 16,18 poin atau 0,31 persen ke posisi 5.282,31. Indeks LQ45 juga menguat 6,45 poin atau 1,21 persen ke posisi 539,47.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico mengatakan penguatan bursa Asia sebelumnya mengikuti pergerakan Wall Street, seiring optimisme terhadap perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
“Bursa Asia didominasi penguatan mengikuti Wall Street semalam, di tengah kembali meningkatnya optimisme terhadap kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Reli tersebut terjadi setelah Anthropic (Claude AI) akan melakukan IPO pada pertengahan November (2026),” ujarnya pada Rabu.
Dari pasar global, investor juga menantikan keputusan kebijakan moneter sejumlah bank sentral utama, termasuk Federal Reserve Amerika Serikat (The Fed), Bank Sentral Eropa (ECB), dan Bank of Japan (BOJ). Nico mengatakan pelaku pasar memperkirakan ketiga bank sentral tersebut mempertahankan suku bunga acuan di level yang sama, sejalan dengan kondisi geopolitik yang masih belum stabil.
Dari dalam negeri, penguatan IHSG pada Rabu turut ditopang keputusan FTSE Russell yang mempertahankan status Indonesia dalam kategori pasar berkembang atau emerging market. Pernyataan pemerintah mengenai kecukupan pasokan BBM bersubsidi maupun nonsubsidi juga menjadi sentimen yang diperhatikan investor.
Meski demikian, Nico menyebut penguatan pasar saham masih terbatas karena ketidakpastian terkait status Indonesia dalam indeks MSCI. Tekanan fiskal juga menjadi perhatian seiring harga minyak yang bertahan di atas 100 dolar AS per barel.
Selain itu, Nico menyebut rencana pemerintah menggratiskan pendidikan hingga tingkat universitas berpotensi menambah beban keuangan negara di tengah berbagai komitmen belanja lainnya.