Hingga Akhir 2017 Awan Gelap Hantui Industri Ritel

Pertumbuhan Industri Ritel Nasional.
Sumber :
  • VIVA/Muhamad Solihin

VIVA.co.id – Pergeseran pola konsumsi masyarakat disebut-sebut menjadi salah satu penyebab industri ritel nasional mengalami tekanan. Berdasarkan data Asosiasi Pengusaha Ritel, geliat industri ritel pada semester pertama tahun ini hanya tumbuh 3,7 persen, atau anjlok drastis dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

img_title Rupiah Memerah di Rp 17.513 Namun Diprediksi Menguat Ditopang Konsumsi Domestik & Keyakinan Konsumen

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih menilai, pergeseran pola konsumsi masyarakat dari yang biasanya belanja secara konvensinal ke online, memang memberikan tekanan tersendiri bagi industri ritel. Namun menurutnya, lesunya pertumbuhan ritel disebabkan faktor lain.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Mungkin memberikan pengaruh. Tetapi kenaikan online itu tidak sebesar penurunan yang dialami ritel. Konsumsi sepertinya pengaruhnya lebih besar,” kata Lana saat berbincang dengan VIVA.co.id, Jakarta, Rabu 27 September 2017.

img_title Mendag Busan Sebut 60 Persen Produk Lokal dan UMKM Sudah Dijual di Ritel Modern

Lana menjelaskan, beberapa sektor ritel saat ini mulai merasakan dampak dari lemahnya tingkat konsumsi masyarakat. Bahkan, hal tersebut tidak hanya tercermin dari daya beli kalangan menengah ke bawah, melainkan juga tingkat konsumsi kalangan menengah ke atas.

“Industri farmasi itu cerita, mereka menjual produk premium seperti susu anak yang relatif mahal, sekarang menurun. Ini berarti tidak semua kegiatan terhentikan dengan online,” katanya.

img_title Andalkan Jaringan Ritel Modern di Sejumlah Kota Besar, Bulog Distribusikan Pasokan Beras Premium

Lana pun melihat, geliat industri ritel pada semester kedua tahun ini masih stagnan. Bahkan, Lana tak yakin, kontribusi konsumsi rumah tangga hingga akhir tahun mampu mengerek pertumbuhan ekonomi 2017 yang dipatok di kisaran 5,2 persen dalam kas keuangan negara.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Kelihatannya masih flat. Karena tidak bisa cepat juga menaikkan, terutama dari sisi income. Sehingga saya kira, ekonomi hanya tumbuh lima persen lebih sedikit,” ujarnya. (mus)

Fasilitas Skytrain Bandara Soekarno-Hatta akhirnya beroperasi pada September 2017 ini.

Ilustrasi karier.

Deretan Peluang Karier Makin Luas di Tanah Air: dari Ritel hingga Teknologi Informasi

Peluang karier di Indonesia makin luas, dari ritel, jasa, dan pariwisata hingga ekonomi digital serta teknologi informasi yang membutuhkan keterampilan baru dan adaptif.

img_title
VIVA.co.id
10 September 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut