Kisah Sunan Kalijaga dan Makam lmogiri

makam imogiri
makam imogiri
Sumber :
  • U-Report

VIVA – Di Kerajaan Mataram Islam yang beristana di Plered bertahtalah Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma dengan bijak berwibawa. Wibawanya tak dapat ditolak oleh matahari. Kebijaksanaannya tak dapat terlarutkan oleh dinginnya malam dan temaram rembulan.

Kanjeng Sultan dicintai oleh rakyatnya, dihormati oleh negara sahabat, dan disegani oleh lawan-|awannya. Sang Raja sentosa mengkhidmati ajaran Islam, sekaligus tetap melestarikan tradisi Jawa asli sebagai identitas bangsa.

Sang Sultan mengayomi seluruh rakyatnya, mulai dari bangsa manusia, hewan, tumbuhan, bahkan bangsa jin sekalipun.

Namun sekali-sekali tiada memberi toleran kepada pihak-pihak yang bersalah, dan nyata-nyata telah melanggar aturan kebenaran Tuhan. Di kala siang, dia sibuk menyebarkan kasih dan ketegasan Tuhan, sedangkan di malam hari selalu tekun bertapa dan bersalat malam.

Dikisahkan pada setiap jumatnya, Kanjeng Sultan Agung selalu beraga sukma dengan cara memecah diri menjadi dua. Yang satu tetap menemani rakyatnya salat Jumat di Masjid Agung Kraton Plered, sedangkan yang satunya selalu terbang ke Mekah untuk mengikuti salat Jumat di sana.

Di sekitar Ka‘bah, sehabis salat Jumat, Kanjeng Sultan selalu berdiskusi agama dengan Kanjeng Sunan Kalijaga. Memang Wali dari Kadilangu Demak ini adalah guru agama bagi Sultan Agung.

Semakin lama, Raja Mataram itu merasa semakin nyaman dan syahdu menghayati suasana kesucian di tanah suci Mekah. Maka Kanjeng Sultan memutuskan, jika kelak berpulang menghadap Tuhan, ingin dimakamkan di dekat kabah, karena ingin beristirahat sekhusyuk saat bersalat di Mekah.