Dipecat, Thomas Frank Nilai hanya Satu Pemain Berkualitas di Tottenham

Pemain Tottenham Hotspur, Pedro Porro
Sumber :
  • Spurs Web

VIVA – Thomas Frank dilaporkan memiliki keraguan terhadap kualitas skuad Tottenham Hotspur setelah tiba pada musim panas lalu, di tengah ekspektasi tinggi usai klub London utara itu mengakhiri paceklik trofi. 

img_title Hasil Pemain Timnas Indonesia di Eropa: Kevin Diks dan Joey Pelupessy Apes, Dean James Cs Kalah Telak

Pelatih asal Denmark tersebut akhirnya dipecat setelah delapan bulan menjabat, menyusul performa tim yang menurun hingga masuk zona degradasi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Saat pertama kali datang, suasana internal klub disebut sangat positif. Tottenham baru saja meraih trofi dan manajemen berharap Frank mampu menanamkan kematangan taktis, terutama untuk memperbaiki kelemahan pertahanan yang sebelumnya menjadi sorotan di era Ange Postecoglou.

img_title Gagal Dapat Franck Kessie, Juventus Gercep Amankan Pape Matar Sarr dari Tottenham

Namun, perjalanan Frank bersama Spurs tidak berjalan sesuai harapan. Dalam kurun delapan bulan, performa tim justru mengalami penurunan signifikan, hingga membuat posisinya berada dalam tekanan besar sebelum akhirnya diberhentikan.

Menurut laporan The Times, Frank menilai skuad yang diwarisinya, meski berstatus juara Liga Europa, tidak cukup kuat untuk bersaing di level tertinggi Eropa. Ia disebut memiliki keraguan terhadap kedalaman dan kualitas keseluruhan tim.

img_title Sudah Habis Rp7,7 Triliun tapi Belum Pernah Menang

Thomas Frank

Photo :
  • givemesport

Bahkan, laporan tersebut menyebut Frank hanya menganggap satu pemain Tottenham yang memiliki level elit Eropa, yakni Pedro Porro. 

Penilaian itu menggambarkan betapa terbatasnya kepercayaan sang pelatih terhadap komposisi skuad yang dimilikinya.

Menariknya, Porro menjadi satu dari hanya dua pemain Tottenham yang secara terbuka menyampaikan ucapan terima kasih kepada Frank setelah pemecatannya. Situasi itu disebut-sebut mencerminkan hubungan yang tidak sepenuhnya solid antara pelatih dan sebagian anggota skuad.

Selain kualitas teknis, Frank juga menyoroti aspek kepemimpinan tim. Ia dilaporkan merasa Tottenham kekurangan figur pemimpin kuat di ruang ganti.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Penunjukan Cristian Romero sebagai kapten, menurut laporan yang sama, bukan didasari keyakinan bahwa bek asal Argentina itu merupakan pemimpin alami. Keputusan tersebut lebih karena Frank menilai tidak ada sosok lain yang menonjol dalam hal kepemimpinan di dalam skuad.

The Times juga mengungkap bahwa sejumlah pemain Tottenham terkejut dengan dinamika kepemimpinan tersebut. Romero disebut diberi keleluasaan besar selama masa jabatan Frank, sesuatu yang memicu tanda tanya di kalangan internal tim.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut