Senyum Tipis Pelatih Kamboja Usai Dibantai Timnas Indonesia

Pelatih Timnas Kamboja, Koji Gyotoku
Sumber :
  • Robbi Yanto / VIVA

VIVA – Pelatih Timnas Kamboja, Koji Gyotoku, tak banyak bicara dalam konferensi pers usai pertandingan melawan Timnas Indonesia pada laga Grup A Piala AFF 2026 di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, Senin 27 Juli 2026. Kamboja dipaksa menyerah 1-5 dari Timnas Indonesia.

img_title Sassuolo Dibantai Fiorentina 2-4, Jay Idzes Panen Kritik Pedas dari Suporter: Dia Bermain Buruk

Gyotoku memilih melihat sisi positif dari pertandingan tersebut. Menurutnya, Kamboja mendapat pelajaran berharga karena menghadapi salah satu tim terkuat di grup.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Sayang sekali kami kalah dalam pertandingan ini. Tapi kami mendapatkan pengalaman yang bagus karena Indonesia adalah tim yang diperkuat banyak pemain berkualitas," ujar Gyotoku.

img_title Rapor Merah Jay Idzes di Laga Comeback: Dapat Nilai Terendah usai Sassuolo Dibekuk Fiorentina 2-4

Pelatih asal Jepang itu menegaskan Kamboja belum menyerah. Ia meminta anak asuhnya segera bangkit untuk menghadapi dua laga sisa di fase grup.

"Sekarang kami masih memiliki dua pertandingan lagi. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan hasil terbaik di dua laga tersebut," katanya.

img_title Pantas Jadi Pembicaraan Media Negeri Jiran, Ternyata karena Ini Pemain Indonesia di Liga Malaysia Layak Masuk Timnas

Gyotoku juga mengakui persaingan di Grup A sangat berat karena dihuni tim-tim kuat seperti Indonesia dan Vietnam. "Grup ini memang sangat sulit. Ada Indonesia dan Vietnam yang memiliki kualitas sangat baik, sehingga setiap pertandingan menjadi tantangan besar bagi kami," tuturnya.

Dalam sesi konferensi pers, Gyotoku juga ditanya mengenai program naturalisasi Kamboja yang belakangan menjadi sorotan.

Ia menjelaskan proses naturalisasi di Kamboja berbeda dengan Indonesia. Menurutnya, pemain asing harus lebih dulu menetap dan bermain selama lima tahun sebelum memenuhi syarat menjadi warga negara.

"Situasinya berbeda dengan Indonesia. Banyak pemain Indonesia memiliki garis keturunan Indonesia, sedangkan di Kamboja pemain harus bermain selama lima tahun terlebih dahulu sebelum bisa dinaturalisasi," jelasnya.

Gyotoku mengakui kondisi tersebut membuat sebagian pemain baru mendapatkan kewarganegaraan ketika usia mereka tidak lagi muda. Karena itu, ia menegaskan fokus utama Kamboja tetap pada pembinaan pemain lokal.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Sekarang kami harus memanfaatkan pemain yang ada. Tetapi ide saya adalah memaksimalkan pemain lokal. Ketika saya bekerja di JFA, saya pernah membina akademi, sehingga saya percaya kami harus fokus mengembangkan talenta-talenta muda," pungkasnya.

Kekalahan telak itu membuat Kamboja belum meraih satu poin pun dari dua pertandingan. Sebelumnya, mereka juga tumbang 1-2 saat menghadapi Singapura.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut