Erick Thohir Ultimatum Klub Liga Indonesia
- Abdul Aziz Masindo/VIVA.co.id
"Karena sudah mengambil barang, membakar, menghancurkan, terus ada benda besar yang tumpul. Saya enggak mau ngomong apa alatnya, kan kelihatan tuh."
Erick mempertanyakan alasan seseorang membawa alat yang berpotensi digunakan untuk melakukan kekerasan ketika menyaksikan pertandingan sepak bola.
"Mana ada menonton bola bawa alat pukulan. Nah, ini konteksnya kan artinya sudah ada pemikiran," tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa aksi balasan dari kelompok suporter lain tidak dapat dibenarkan. Menurut Erick, setiap tindakan kekerasan harus ditindak tegas tanpa memandang klub maupun kelompok suporter yang terlibat.
Sebagai langkah lanjutan, Erick memberikan waktu satu minggu kepada operator liga dan klub-klub untuk menyepakati mekanisme pengamanan suporter.
Ia meminta seluruh pihak segera merumuskan langkah konkret agar insiden serupa tidak kembali terjadi. Jika kesepakatan tidak tercapai dalam tenggat tersebut, PSSI siap mengambil tindakan.
Salah satu opsi yang dapat diterapkan adalah menghentikan kembali kebijakan kehadiran suporter tim tamu di pertandingan kompetisi domestik.
"Saya akan kasih kesempatan liga, klub untuk bersepakat satu minggu ini. Kalau tidak ada kesepakatan, kami PSSI akan intervensi," ujar Erick.
"Jangan-jangan tidak ada lagi suporter away lagi," tambahnya.
Selain membatasi suporter tandang, Erick juga membuka peluang menjatuhkan sanksi pengurangan poin kepada klub yang tidak mampu menjaga perilaku suporternya.
Menurutnya, sanksi tersebut perlu dipertimbangkan agar klub memiliki tanggung jawab lebih besar dalam menjaga keamanan dan ketertiban pertandingan.
"Saya akan mendorong klub-klub yang tidak bisa menjaga suporternya, pengurangan poin sekarang. Tapi saya kasih kesepakatan dulu, cuma kita akan lakukan tindak tegas pastinya. Karena intinya tadi, sama keselamatan," tegas Erick.