Dituntut Turunkan Harga Tiket, Ini Kata Presiden Persebaya

Pendukung Persebaya Surabaya, Bonek.
Sumber :
  • VIVA/Rahmad Noto (30-01-18)

VIVA – Tuntutan bonek agar tiket Persebaya Surabaya melawan Serawak FA dalam laga "Blessing Game" diturunkan sudah pasti tidak terwujud. Sebaliknya, Presiden Persebaya Surabaya, Azrul Ananda membuat pernyatan resmi dalam website Persebaya. 

Persib Bandung Waspadai Kekuatan Lini Depan MU

Dalam tulisannya, Azrul menguraikan proses perjalanan Persebaya hingga muncul keputusan menaikkan harga tiket.

Dalam salah satu paragraf tulisan berjudul "Terima Kasih Sudah Mendukung Semampunya" itu disebutkan tidak ada masalah bonek tidak hadir dalam laga yang digelar di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya, 18 Maret 2018. 

Gol Menit Akhir PSIS Buyarkan Kemenangan Bhayangkara FC

Berikut tulisan lengkap Azrul Ananda:

Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pendukung Persebaya di mana pun Anda berada. Sebentar lagi, klub kebanggaan kita ini akan kembali berkiprah di tempat yang semestinya, di Liga 1, liga tertinggi di Indonesia.

Persija Dilanda Kelelahan Jelang Hadapi Tira Persikabo

Tak sabar rasanya segera memperkenalkan banyak hal baru di Persebaya. Jersey baru kami akan dimunculkan kali pertama pada Blessing Game, 18 Maret nanti. Akan ada beberapa partner baru menempel di jersey tersebut. Yang membanggakan, mereka sebelumnya tidak pernah ikutan di sepak bola Indonesia, dan mereka memilih Persebaya sebagai klub untuk didukung.

Anggap saja ini satu lagi kontribusi Persebaya untuk sepak bola Indonesia. Karena kalau mereka happy di Persebaya, mereka bisa ikut lebih aktif mengembangkan sepak bola di Indonesia secara lebih luas.

Tak sabar juga memperkenalkan program-program baru Persebaya untuk masyarakat. Mas Whisnu Sakti Buana (wakil wali kota Surabaya), Pak Rudi Setiawan (Kapolrestabes Surabaya), bersama kami dan para sponsor telah merancang berbagai program yang bukan hanya baik untuk suporter Persebaya, tapi juga untuk masyarakat Surabaya.

Mulai dari beasiswa untuk bonek, pelatihan kerja, dan lain-lain.

Sambil jalan, kami akan membangun tim yang diharapkan bisa memburu prestasi di lapangan. Berfondasikan pemain-pemain muda hebat yang tahun lalu berjuang mengantarkan Persebaya menjadi juara Liga 2, dan sekarang tampil di Liga 1.

Fondasi ini kami perkuat dengan program-program pembinaan yang komprehensif, yang tidak dimiliki klub lain di Indonesia. Terus mengeluarkan biaya bermiliar-miliar rupiah di Kompetisi Internal, Persebaya U19, kelompok umur lebih muda, dan juga PS Kota Pahlawan untuk menyiapkan pemain-pemain Persebaya (dan Indonesia) masa depan.

Sambil jalan pula, struktur Persebaya sebagai perusahaan (PT) juga terus diperkuat. Mulai marketing-nya, administrasinya, dan lain sebagainya untuk menjalankan business plan yang bertujuan menjaga sustainability Persebaya untuk tahun-tahun ke depan.

Memang, banyak yang kami lakukan ini tidak umum untuk sebuah klub di Indonesia. Jadi, saya pun siap dicerca apabila banyak orang tidak paham apa atas apa yang kami lakukan ini.

Jangankan masyarakat awam, pengurus klub Liga 1 lain pun bingung dengan apa yang kami lakukan. Dalam rapat pimpinan klub baru-baru ini, bos sebuah klub besar Indonesia bahkan sempat minta waktu khusus dengan saya, tanya-tanya seperti apa struktur manajemen yang dibuat Persebaya.

Dan kalau ingin mencerca, tolong cerca saya pribadi, Azrul Ananda. Jangan tim manajemen yang bekerja keras mengupayakan kemajuan tim. Jangan para pelatih atau pemain yang bekerja keras di lapangan, dan tidak boleh terganggu dengan hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan bermain sepak bola.

Cerca saya pribadi. Azrul Ananda. Tidak apa-apa.

Entah sudah berapa kali saya menyampaikan, dukung Persebaya semampu Anda. Semua rela berkorban untuk Persebaya, tapi jangan sampai mengorbankan akal sehat untuk Persebaya.

Silakan cerca saya. Bilang manajemen hanya cari untung. Tidak apa-apa. Toh untungnya buat Persebaya seutuhnya. Untuk program-programnya. Untuk rencana-rencana masa depan Persebaya. Saya sampai hari ini tidak menerima gaji dari Persebaya. Alhamdulillah saya memang tidak butuh gaji dari Persebaya.

Itu kalau untung.

Tahun lalu adalah tahun kebanggaan saya pribadi. Bisa membawa Persebaya kembali ke Liga 1. Dan tahun lalu saya merasa beruntung, ruginya Persebaya masih di kisaran Rp 9 miliar (dan saya tidak menghitung biaya pelunasan gaji-gaji tahun-tahun sebelumnya).

Silakan cerca saya. Kenapa tidak mau mengontrak pemain-pemain mahal. Saya berkali-kali pula bilang ke media, mungkin Persebaya tidak punya pemain termahal, tapi gaji rata-rata pemain lokalnya saya yakin lebih baik dari tim lain. Yang paling saya syukuri, sampai hari ini Persebaya belum pernah menunggak gaji.

Dan saya sudah berulang kali mendengar dan melihat langsung cerita horor bagaimana pemain gajinya ditunggak berbulan-bulan, atau bahkan bagaimana klub level Liga 1 saja masih ada yang kebingungan hanya untuk membeli bola untuk latihan!

Silakan cerca saya. Seratus persen saya memahami kenapa berbagai kebijakan manajemen (dalam hal ini atas persetujuan saya) tidak disukai sejumlah orang.

Kalau memang tidak ingin mendukung program Persebaya, tidak apa-apa. Supporter, di dunia mana pun, dalam definisi bisnis apa pun, adalah customer. Ada customer yang membalas jasa/barang menggunakan uang, ada yang tidak perlu menggunakan uang.

Saya lebih bangga Persebaya ditonton oleh 20.000 penonton yang membayar secara real, daripada klub-klub lain yang mengklaim punya 40.000 penonton tapi ternyata tidak mendapatkan pemasukan real.

Asal tahu saja, ada sebuah klub besar, di kota besar, dengan stadion begitu besar. Ketika stadionnya penuh, semua orang berasumsi bahwa klub itu untung besar. Tapi ternyata, klub itu pada pertandingan itu merasa beruntung, karena “hanya” rugi Rp 100 juta. Mendengar cerita sang bos tim, saya hanya bisa elus-elus dada.

Sekali lagi, terima kasih banyak kepada semua pihak yang sudah mendukung Persebaya, sehingga tahun ini bisa kembali berlaga di Liga 1.

Saya pribadi sudah tak sabar segara ada di Blessing Game. Di mana kami akan mengundang para pemuka berbagai agama, berdoa bersama untuk kejayaan Persebaya di Liga 1 dan tahun-tahun berikutnya. Kami juga mengundang anak-anak yatim piatu, yang mungkin tidak pernah punya kesempatan atau kemampuan untuk menonton Persebaya secara langsung.

Bagi yang tidak bisa hadir, atau tidak mau hadir, tidak apa-apa. Dukung Persebaya semampu Anda. Toh pertandingan akan ditayangkan di televisi secara live, dan itu tidak perlu membayar. Mungkin Anda bisa nonton di rumah, atau ikut membantu perekonomian dengan menontonnya bersama orang lain di warung, kafe, atau tempat lain. Walaupun kalau begitu, yang untung bukan Persebaya secara langsung, melainkan kafenya (wkwkwkwk…)

Saya hanya minta tolong, Minggu, 18 Maret pukul 15.30, ayo ikut mendoakan Persebaya. Entah itu di warung, di rumah, atau di mana pun. Bersama-sama dengan mereka yang ada di lapangan!

Salam satu nyali!
 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya