Keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan Mulai Merasa Terintimidasi

Keluarga korban Tragedi Kanjuruhan
Keluarga korban Tragedi Kanjuruhan
Sumber :
  • Viva/Lucky Aditya

VIVA Bola – Keluarga korban Tragedi Kanjuruhan sampai saat ini terus berjuang menanti keadilan bagi keluarga yang meninggal dalam insiden 1 Oktober 2022 itu. Di tengah upaya menanti keadilan dalam proses persidangan mereka mulai merasakan aroma intimidasi. 

Seperti yang dirasakan oleh, Juariyah (43 tahun) warga Muharto, Kota Malang. Putrinya bernama Sifwa Dinar Arta Mevia (17 tahun) menjadi salah satu dari 135 korban meninggal dunia. 

Saat datang ke persidangan di Pengadilan Negeri Surabaya dia merasakan sejumlah hal yang janggal. Padahal kedatangan mereka untuk menuntut keadilan. Untuk itu, kini mereka mulai intens berkomunikasi dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) dalam upaya hukum ke depan. 

Pengamanan sidang Tragedi Kanjuruhan di PN Surabaya.

Pengamanan sidang Tragedi Kanjuruhan di PN Surabaya.

Photo :
  • VIVA/Nur Faishal

"Bukan kayak terancam, tapi ya jaga-jaga gitu lah. Kayak kita ke Surabaya menghadiri sidang. Itu pun kami keluarga korban, berempat. Tapi disana Bonek sudah banyak di jalan-jalan, polisi pun disana sudah ada 1.600 personel yang berjaga. Kami mau masuk (ruang sidang) pun sempat diadang gak boleh masuk di sana," kata Juariyah, Rabu, 25 Januari 2022. 

Juariyah mengungkapkan, di PN Surabaya sudah seharusnya keluarga korban dapat akses yang mudah untuk mengikuti jalannya persidangan. Tetapi harapan itu tidaklah sama dengan kenyataan. Mereka sempat dipersulit mengikuti jalannya sidang Tragedi Kanjuruhan. 

Halaman Selanjutnya
img_title