Shin Tae-yong dan Misi Korean Wave
- PSSI
Shin Tae Yong berubah menjadi lebih kental sebagai artis k-pop ketimbang figur sepakbola.
Gaya komunikasi Shin Tae Yong sangat berubah ketika dia ditangani oleh ADG Company tahun
2022. Dia lebih artikulatif dan mampu memainkan perasaan serta emosi publik.
Tahun 2019 - 2021 Shin Tae Yong tidak mampu mengartikulasikan kemampuan komunikasinya, semua
berubah setelah ada ADG Company yang sangat memikirkan citra dan publikasi Shin Tae Yong
sebagai duta olahraga korean wave.
Tentu adg sebagai pihak yang mencarikan iklan untuk Shin Tae Yong memiliki kepentingan
agar citra dan pemberitaan Shin Tae Yong positif agar tidak merusak citra brand yang melekat
kepada Shin Tae Yong.
Meskipun indonesia dapat lolos babak 16 besar piala asia namun kelolosan itu dibantu oleh
kyrgistan yang mampu menang melawan oman, dan membawa indonesia menjadi salah 1
peringkat 3 terbaik.
Anehnya menjelang pertandingan lawan Jepang muncul desakan kepada PSSI di sosial media
agar Shin Tae Yong tetap dipertahankan, padahal bertanding melawan jepang pun belum. Ini
seperti mengkondisikan bahwa jikapun indonesia gagal lolos 16 besar Shin Tae Yong tetap
harus dipertahankan.
Siapakah yang berkepentingan? Ya tentu saja Shin Tae Yong dan ADG Company. Mengapa?
Karena kontrak terbaru Shin Tae Yong dengan TSB Korea yaitu perusahaan metaverse yang
menjual avatar Shin Tae Yong dengan menggunakan property timnas indonesia seperti jersey
timnas, burung garuda dan batik indonesia memilik kepentingan untuk pasar di indonesia.
Sehingga mereka butuh waktu lagi untuk melakukan penetrasi pasar.
Pertanyaannya apakah PSSI mengetahui hal ini? Apakah dalam kontrak PSSI - Shin Tae Yong
memperbolehkan untuk Shin Tae Yong melakukan aktivitas komersial dengan pihak lain?
Tentu ini harus dikonfirmasi oleh PSSI. Penjualan avatar ini tentunya akan menjadi devisa
negara bagi Korea Selatan dan bukan untuk indonesia, dan tentunya tidak ada pajak yang
dibayar ke pemerintah indonesia. Dengan nilai kontrak yang fantastis dengan timnas
indonesia, ternyata Shin Tae Yong tetap menyukai profesinya sebagai bintang iklan.
Jadi jika dibilang pihak Shin Tae Yong tidak punya kepentingan selain sepakbola, maka kita
perlu melihat kembali data di atas betapa industri korean wave ini sudah menjadi pilar
sumber pemasukan negara yang sangat potensial. Sementara publik sepakbola kita dibius
oleh ilusi dengan bingkaian kalimat ‘main sudah bagus, hasil menunggu proses’. Tanpa
menyadari bahwa rakyat indonesia dihegemoni oleh korea melalui instrumen-instrumen
korean wave.