Terbuka Kesempatan 1.000 Mahasiswa Dikirim ke Luar Negeri
- VIVA.co.id/Rebecca Reifi Georgina
Dia mengatakan, hambatan yang dilalui, pertama adalah bahasa. Banyak dari mahasiswa yang menjadikan bahasa sebagai kendala.
Hambatan lainnya adalah budaya dan kedisiplinan. Paristianti mengatakan, hal itu sangat penting, karena Indonesia dan negara target transfer memiliki perbedaan kebudayaan.
“Soal bangun kesiangan, kalau di sana, di Jepang, bangun siang bisa bubar jalan,” katanya mencontohkan.
Hambatan selanjutnya yaitu kesiapan mental. Ia mengatakan di Korea dan Jepang, sudah terbiasa berjalan walau jarak yang ditempuh berkilo-kilometer.
“Dua kilometer di sana jalan, di sini ngangkot,” ujarnya.
Untuk itu, Paristianti menegaskan, agar mahasiswa Indonesia mempersiapkan betul untuk program kredit transfer di luar negeri.
Dia menagatakan, untuk universitas yang sudah memberlakukan Create sudah mencapai 100 perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Selama ini, perguruan tinggi yang paling banyak mengirimkan mahasiswa dalam program ini berasal dari 20 universitas besar Indonesia.
Tiga di antaranya adalah Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas Gadjah Mada (UGM).
“Justru, sekarang kami kan prioritaskan juga yang belum mendapat kesempatan,” katanya.
Terkait program studi yang diutamakan adalah kesehatan, pariwisata, pertanian, dan maritim. "Sesuai juga dengan visi misi Presiden Jokowi, Nawacita, kemaritiman," kata dia.
Terkait pembiayaan yang diberikan, Paristianti mengatakan, ada tiga kategori bantuan yang diberikan pada mahasiswa transfer. Pertama, kategori sangat istimewa di berbagai bidang, bukan hanya IQ, EQ, dan SQ.
Pada kategori ini, disebutkan pemerintah akan menyokong biaya secara penuh dari biaya kuliah, tempat tinggal dan tiket ke luar negeri.
Kategori kedua adalah istimewa. Pada kategori ini, pemerintah akan membayarkan biaya kuliah, sedangkan biaya tiket dan tempat tinggal ditanggung oleh orang tua. Kategori terakhir, yaitu yang berkemauan kuat, maka pemerintah akan memberikan kesempatan membayarkan uang kuliah, lalu selebihnya ditanggung oleh orang tua. (art)