Studi Sebut Perubahan Iklim Bikin Penerbangan Makin Ngeri

Ilustrasi pesawat
Sumber :
  • www.pixabay.com/PublicDomainPicture

VIVA.co.id – Tim peneliti Universitas Reading, Inggris, mengingatkan kepada otoritas dan maskapai penerbangan, perubahan iklim akan membuat penerbangan makin mengerikan. Berdasarkan studi tim tersebut, perubahan iklim akan meningkatkan insiden turbulensi. 

img_title Langkah Baru Indonesia Hadapi Perubahan Iklim

Dikutip dari Boston Globe, Jumat 7 April 2017, studi tim itu menemukan adanya peningkatan turbulensi di koridor penerbangan Atlantik Utara, yang meliputi wilayah udara Eropa dan Amerika Utara. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Studi itu mengatakan, turbulensi ringan diproyeksikan akan meningkat rata-rata 50 persen, turbulensi sedang meningkat 75 persen, turbulensi moderat meningkat 94 persen, dan turbulensi hampir parah meningkat 127 persen, serta turbulensi parah meningkat 149 persen. 

img_title Di Hadapan Sekjen PBB, Prabowo Tegaskan Komitmen Indonesia terhadap Energi Terbarukan

Peneliti mengatakan, penyebab kenaikan turbulensi itu, karena naiknya karbon dioksida atmosfer. Tingkat karbon dioksida akan mengubah arus jet di penerbangan Atlantik Utara. 

"Kami lebih fokus pada turbulensi parah, sebab jenis ini akan menyebabkan orang masuk rumah sakit," ujar peneliti Universitas Reading, Paul Williams.

img_title Taiwan Ajak Dunia Lawan Perubahan Iklim

Dalam studinya, William menguji 21 karakteristik yang berhubungan dengan angin penyebab ragam kategori turbulensi. Salah satunya, yaitu kecepatan angin dan perubahan arah aliran udara.

Dia mengatakan, dalam 50 tahun, jika tidak ada upaya untuk mengurangi konsentrasi karbon dioksida atmosfer, volume turbulensi ringan akan meningkat sampai 59 persen, dan turbulensi parah meningkat dari 36 sampai 188 persen.

William menekankan, ke depan, turbulensi parah memang tetap akan jarang terjadi. Namun, turbulensi ringan yang meningkat akan membuat pilot bekerja keras dan pesawat membutuhkan bahan bakar yang lebih untuk menghindari area turbulensi. 

Pakar laut dan atmosfer Universitas Colorado, Amerika Serikat, Kristopher Karnauskas mengatakan, arus jet di atas Pasifik, kemungkinan merespons berbeda atas perubahan iklim. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

William memang membatasi area studinya pada Atlantik Utara dan hanya pada musim dingin saja, sebab di masa tersebut merupakan kalender turbulensi tertinggi.

Hasil studi William itu menunjukkan, peningkatan suhu global bisa menyebabkan perubahan aliran udara atmosfer, pergeseran arus udara utama, atau arus jet. (asp)

Pengelolaan limbah milik Lippo Karawaci

Terapkan Bisnis Berkelanjutan, Begini Strategi Lippo Karawaci Kelola Limbah Proyeknya

Air limbah dari properti milik dan yang dikelola LPKR tidak dibuang sembarangan.

img_title
VIVA.co.id
24 Juli 2025
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut