Penjelasan Ilmiah Soal Bos yang Kerap Emosi
- Viva.co.id/Amal Nur Ngazis
"Saat leader marah, itu masuk ke dalam otak perasaan. Bawahan itu nantinya otak cortex dan limbiknya terkunci. Jadi nge-hang, atau ter-hjack, Maka itu menjadi kaku beku, padahal otak manusia itu berpikir kreatif dan akhirnya untuk analitik tidak bisa," ujarnya.Â
Mengingat fungsi otak itu, Lyra menyarankan agar pemimpin harus memahami prinsip otak tersebut. Agar otak cortex berjalan optimal maka pemimpin sebaiknya mengedepankan rileks untuk memicu dan mendorong bawahan berpikir kreatif.Â
"Bayangkan di Indonesia, berapa banyak leader yang menggunakan gaya direktif lalu marah-marah. Dia pikir cuma ada satu cara (memimpin dengan marah-marah) saja," kata dia.Â
Lyra menjelaskan, jika pemimpin paham dengan edukasi berprinsip neurosains, maka sosok pemimpin akan mampu mengelola emosinya sendiri sehingga efektif dalam memimpin orang. (ren)