Hilal dan Musuh yang Menghalanginya

Ilustrasi-Pemantauan hilal
Sumber :
  • REUTERS/Iqro Rinaldi

VIVA.co.id – Pengamatan hilal atau bulan sabit pertama selalu dinanti menjelang penetapan awal Ramadan. Secara garis besar, untuk mengamati hilal terdapat dua metode yakni dengan rukyat atau pengamatan langsung pada bulan dan hisab atau perhitungan secara astronomi untuk menentukan masuknya awal bulan Hijriyah. 

Untuk diketahui, penentuan awal bulan dalam kalender Hijriyah adalah berbasis pengamatan bulan.

Ketua Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin menjelaskan penentuan awal Ramadan pada zaman Radulullah SAW dilakukan dengan rukyat. Tapi setelah ilmu hisab berkembang, metode ini juga dipakai juga sebagai penentuan awal bulan. Kedua metode itu dipakai untuk melihat hilal.

Thomas menuturkan, awalnya rukyat hilal dilakukan dengan mata telanjang, dengan mencari keberadaan hilal di sekitar titik terbenamnya Matahari. Tapi dengan perkembangan berbagai teknologi pengamatan dan ilmu hisab,terjadi kolaborasi antara rukyat dan hisab.

Bicara soal hilal, Thomas menuturkan pengamatan bulan sabit pertama sebagai penanda masuknya bulan baru itu memang ada beberapa tantangan. Sebab, kondisi jelang dan sekitar hilal beriringan dengan senja Matahari. Hal ini membuat penampakan hilal bisa kabur.

"Bentuk hilal itu sangat tipis. Lingkungannya mengarah ke arah Matahari, karena hilal adalah bagian bulan yang terpercahayai Matahari," ujar Thomas kepada VIVA.co.id, Jumat 26 Mei 2017. 

Dia menuturkan bagian ujung (tanduk) hilal lebih tipis di bagian tengahnya, bahkan seringkali tidak terlihat. Maka menurutnya, hilal bisa menjadi tampak hanya seperti goresan cahaya yang sangat tipis. 

"Sangat sulit dilihat, apalagi oleh pemula," ujarnya. 

Kelemahan pengamatan rukyat secara tradisional mendapat bantuan dari perkembangan ilmu hisab. Dengan perhitungan astronomi itu, pengamat hilal bisa dibantu dengan hasil hisab. 

Perkembangan teleskop dan binokuler juga membantu pengamat rukyat atau perukyat mengenali hilal lebih baik dari sebelumnya. Fungsi teleskop membantu perukyat mengumpulkan cahaya hilal yang redup. Tapi meski dengan bantuan teknologi teleskop masih ada tantangannnya. 

"Masalahnya, cahaya senja (syafak) juga diperkuat. Jadi, dengan telesko masalah kontras antarhilal dan cahaya syafak tidak dapat diatasi," jelasnya. 

Penganggu hilal

Selanjutnya perkembangan teknologi kamera digital (dan CCD) dan teknologi pengolah citra berbasis (image prosessing) komputer makin mempermudah pengamatan hilal. Terlebih teleskop saat ini sudah banyak yang dilengkapi komputer untuk mempermudah arah ke posisi hilal. 

Thomas menuturkan, kamera digital dan perangkat lunak pengolah citra memang bisa mempercepat penemuan hilal karena kontras hilal bisa sedikit ditingkatkan. 

"Tapi masalah cahaya senja sebagai penganggu pengamatan hilal tidak bisa dihilangkan," kata dia. 

Sebentar Lagi Indonesia Alami Fenomena Ekuiluks

Sementara penggunaan filter pada teleskop dinilai tak efektif untuk meningkatkan kontras hilal. Sebab sumber cahaya hilal dan cahaya senja sama-sama dari Matahari dengan cahaya dominan merah dan inframerah. 

Dengan demikian, masalah rukyat hilal yang utama yaitu kontras antara cahaya hilal yang tipis dan cahaya senja yang masih cukup kuat di ufuk.

Puncak Hujan Meteor Quadrantid Terjadi Sebelum Subuh
Sinar Matahari.

Indonesia Mengalami Ekuiluks, Wilayah Ini yang Pertama Merasakan

Indonesia memasuki fenomena ekuiluks mulai Selasa hari ini, 25 Januari 2022. Ekuiluks adalah fenomena astronomis ketika panjang siang sama dengan panjang malam.

img_title
VIVA.co.id
25 Januari 2022