Mengungkap 'Dapur' Blockchain yang Diklaim Tak Bisa Diretas

Pesan hacker anonymous melalui akun Twitter.
Sumber :
  • twitpic.com

VIVA – Teknologi pencatatan transaksi terintegrasi modern atau Blockchain diklaim sebagai teknologi yang secure dan sangat sulit diretas.

img_title Jangan Percaya Ada yang Ngaku-ngaku Perekrut BUMN atau Tech Titan di LinkedIn

Chairwoman of the Board of Directors Blockchain Zoo, Pandu Sastrowardoyo, memiliki alasan mengapa teknologi ini minim peretasan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Begini, Blockchain itu tidak pernah di-hack, karena sistemnya yang demokratis. Kalau ada satu node atau server diretas, lalu datanya berhasil diubah bahkan diambil, saya pastikan tidak akan menyebar ke node lainnya," kata dia kepada VIVA, Kamis, 1 Februari 2018.

img_title AI Sekarang bisa Meretas dalam 31 Detik Tanpa Bantuan Manusia

Ia melanjutkan, tidak menyebarnya serangan siber ini lantaran masing-masing node memiliki kekuatan untuk menentukan sistem ini benar atau salah. Ini satu dari dua kekuatan security milik Blockchain.

Pandu menuturkan, kekuatan lainnya mengapa Blockchain tak bisa dijebol serangan siber adalah masing-masing node punya berlapis-lapis enkripsi.

img_title Masih Ingat Gary McKinnon? Hacker yang Pernah Menghebohkan Pentagon dan NASA Kini Jadi Produser Musik

Dengan demikian, Pandu optimistis kalau serangan hacking, phising dan sejenisnya, pasti menargetkan mata uang digital atau cryptocurrency dalam melakukan aksinya, bukan Blockchain.

"Karena memang duitnya di situ. Yang di-hack bukan Blockchain melainkan sistem di sekitarnya," klaim dia.

Pandu kemudian mencontohkan kasus pembobolan Bursa Saham Bitcoin Jepang, di mana yang menjadi titik masalah terletak di exchange atau transaksi perdagangan.

Seperti diketahui, Bursa Saham Bitcoin Jepang merugi hingga 523 juta koin NEM (cryptocurrency Jepang) senilai 58 miliar yen atau Rp7,1 triliun, beberapa hari lalu.

Pandu menambahkan jika diterapkan, maka Blockchain menjanjikan efisiensi dan transparansi.

Ibaratnya seperti buku kas induk di bank yang mencatat semua transaksi nasabah, hal ini yang dilakukan Blockchain.

Hanya saja, apabila buku kas induk cuma boleh dilihat dan dicek oleh pihak berwenang di bank, maka semua transaksi lewat Blockchain bisa dilihat oleh semua penggunanya.

Teknologi ini dapat mendesentralisasi kepercayaan dari pihak yang menerapkan sistem tersebut. Belum lagi tingkat kebocoran data jauh lebih rendah dibanding dengan pusat data biasa.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Penerapannya berupa sistem server sendiri dari masing-masing bank, yang 'diikat' dengan Blockchain, serta untuk update system juga dapat dilakukan dengan mudah.

Sejatinya, Blockchain juga dapat digunakan oleh berbagai sektor atau industri, selain perbankan, yang membutuhkan proses pencatatan dan validasi.

Hacker / serangan siber.

Uni Eropa Resmi Wajibkan Laporan Serangan Siber dalam 24 Jam

Komisi Uni Eropa Bersama Badan Keamanan Siber Uni Eropa (ENISA) mengatakan aturan baru yang mewajibkan pelaporan serangan siber dan kerentanan mulai berlaku 11 September.

img_title
VIVA.co.id
12 September 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut