Ilmuwan Bisa Prediksi Perceraian dari 8 Hal Ini

Pernikahan Song Joong Ki dan Song Hye Kyo,
Sumber :
  • Twitter

VIVA – Isu perceraian selebritis Korea, Song Joong Ki dan Song Hye Kyo, bikin para fans syok. Hal ini bisa dimengerti mengingat usia pernikahan mereka baru seumur jagung. 

img_title Kalau Pasangan Lakukan 6 Hal Ini Tanpa Disuruh, Mungkin Dia Jodohmu yang Tepat

Sepertinya juga masih hangat dalam ingatan, bagaimana wajah sumringah pasangan aktor dan aktris itu usai mengikrarkan janji suci pada 31 Oktober 2017 lalu. Dukungan para fans pada pernikahan mereka pun tercermin dalam julukan Song Song Couple, seolah mereka adalah jodoh serasi yang memang ditakdirkan bersatu selamanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Akan tetapi, apa pun itu, Song Joong Ki telah mengumumkan gugatan cerainya pada sang istri. Terlepas dari permasalahan rumah tangga mereka, bahtera perkawinan tak selamanya melewati jalanan yang mulus. Konflik adalah hal yang tak terhindarkan, dan sebagian pasangan memilih berpisah, move on, kemudian melanjutkan masa depan. 

img_title Data Kemenkes Ungkap 6 Juta Pasangan Usia Subur Alami Infertilitas! Bukan Cuma Istri, Suami Juga Perlu Diperiksa

Ngomong-ngomong soal perceraian, para ilmuwan sosial pun rupanya pernah melakukan sejumlah penelitian terkait. Business Insider pernah membuat laporan pada 11 Maret 2018, bahwa ada delapan faktor yang dapat memprediksi suatu pernikahan akan berakhir pada perceraian.

Pernikahan tema Harry Potter

img_title Intip Perubahan Perilaku Konsumen Digital yang Tak Bisa Diabaikan

1. Menikah di usia remaja atau setelah umur 32 tahun

Waktu terbaik untuk menikah adalah ketika sudah merasa siap, dan telah menemukan seseorang yang bersedia menghabiskan sisa hidup bersama. Tanpa adanya dua hal ini, peneliti menyarankan, sebaiknya jangan menikah dulu. 

Penelitian menunjukkan, pasangan yang menikah di usia remaja atau di atas 30-an memiliki risiko lebih besar untuk bercerai daripada mereka yang mengikat janji suci di usia 20-an dan awal 30-an. Antara keduanya, pernikahan usia remaja memiliki potensi cerai lebih tinggi.

Pernyataan tersebut menurut penelitian yang dipimpin oleh Nicholas Wolfinger, seorang profesor di Universitas Utah. Setelah usia 32 tahun, Wolfinger menemukan, peluang perceraian meningkat sekitar 5 persen setiap tahun.

Wolfinger menuliskan dalam sebuah posting blog di Institute for Family Studies, "Untuk hampir semua orang, akhir dua puluhan tampaknya menjadi waktu terbaik untuk mengikat janji suci."

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

2. Suami yang tidak bekerja penuh waktu

Sebuah studi Harvard 2016, yang diterbitkan dalam American Sociological Review, menunjukkan bahwa bukan keuangan pasangan yang memengaruhi peluang perceraian, melainkan pembagian kerja.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut