Australia Berani 'Injak Kaki' Facebook dan Google, Indonesia?

Facebook dan Google.
Sumber :
  • BarnRaisers

VIVA – Australia mendesak Facebook dan Google supaya membayar konten berita. Nampaknya, tidak akan ada jalan mundur untuk kebijakan tersebut alias tegas. Kapan kebijakan seperti itu diterapkan di Indonesia?

img_title Google Photos atau Drive, Mana yang Lebih Tepat untuk Mengosongkan Memori HP?

Keinginan pemerintah Australia ini sudah ada sejak dua bulan lalu. Mereka meminta Komisi Pengawas dan Persaingan Usaha (ACCC) untuk menyusun kode etik wajib yang mengatur hubungan antar penerbit berita dan platform Google serta Facebook.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dengan keinginan kuat Australia ini sepertinya akan semakin panas di dua belah pihak antara pemerintah, penerbit berita dan regulator melawan dua raksasa digital.

img_title Pernah Ingin Bela Australia, Mathew Baker Kini Mantap Pilih Timnas Indonesia

Dikutip dari laman Niemanlab, Rabu, 17 Juni 2020, baik Google dan Facebook menyatakan pendapatan keduanya dari berita sangat kecil dan bisnis mereka sehat walaupun tanpa berita di dalamnya.

Namun, sisi lain, orang-orang di industri berita mengatakan bahwa informasi yang tepat berada di jantung proposisi nilai di kedua raksasa digital tersebut.

img_title Mengenal Ghost Shark, Persenjataan Baru Bawah Air Australia

News Corp Australia menjadi penggerak utama dari rencana ini. Mereka menyatakan keinginan bernegosiasi langsung dengan Facebook dan Google dalam kerangka kerja yang diatur serta arbitrasi.

Dengan cara tersebut maka News Corp Australia memainkan kekuatannya dan bersatu bersama media Australia lainnya. Hal ini bisa menjadi transaksi langsung dengan kedua raksasa teknologi asal Amerika Serikat itu.

Perusahaan tersebut juga setuju dengan Free TV yang platform harus bayarkan setidaknya 10 persen dari puluhan konten berita. Pihak News Corp juga percaya, baik Google dan Facebook, menciptakan banyak uang dari pasar ini.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Rencana tersebut nantinya akan mengatur salah satunya remunerasi untuk konten berita. Jumlahnya tak main-main, para eksekutif berita menyatakan hingga 10 persen pendapatan kedua perusahaan teknologi di pasar tersebut, yakni 600 juta hingga 1 miliar dolar Australia atau Rp5,8 triliun sampai Rp9,7 triliun.

Menurut laporan ACCC, ditemukan jika kedua perusahaan menikmati kekuatan pasar yang kuat dan karena itulah hukum kompetisi diterapkan. Mereka meminta kepatuhan bagi pihak yang terlibat dengan deadline terjadi di awal Juni lalu.

(FOTO ILUSTRASI) Pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Australia Kirim Tawaran Khusus untuk Indonesia di Tengah Karhutla, Ini Kata Menko Dudung

Sejumlah negara sahabat mulai menawarkan bantuan kepada Indonesia untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ada Malaysia, Singapura, hingga Australia.

img_title
VIVA.co.id
24 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut