COVID-19 'Paksa' Influencer Kerja Keras

Ilustrasi influencer.
Sumber :
  • U-Report

VIVA – Virus Corona COVID-19 berdampak pada setiap kehidupan masyarakat di dunia. Tidak terkecuali influencer. Country Director Gushcloud South East Asia, Oddie Randa mencatat, para influencer atau digital creator di kawasan Asia Tenggara mengunggah lebih banyak konten selama pandemi masih melanda.

img_title Hakim Tolak Dalih COVID-19 Nadiem di Perkara Chromebook, Singgung Arahan 'Mas Menteri'

Ia juga menjelaskan seorang digital creator harus lebih bisa beradaptasi saat ini. Apalagi dalam membuat sebuah konten hanya membutuhkan tim kecil.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain itu perubahan yang dibawa COVID-19 telah memicu poros utama dalam perilaku konsumen, seperti apa yang mereka habiskan, konten yang mereka konsumsi, dan prioritas mereka.

img_title Dua Terdakwa Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Westafel saat Covid-19 Divonis Bebas

"Para influencer atau digital creator dan industri pemasaran dapat beradaptasi, kita perlu merangkul perubahan ini dan sepenuhnya mengadopsinya untuk mengedepankan strategi baru terhadap merek," katanya, dalam acara whitepaper virtual press conference, Selasa, 11 Agustus 2020.

Pandemi COVID-19 terbukti menjadi periode yang sangat sulit bagi seluruh industri. Namun, situasi seperti ini juga menciptakan peluang baru untuk kalangan influencer, content creator, bisnis, dan agensi merek.

img_title Pertama dalam Sejarah, Mantan Perdana Menteri Spanyol Jadi Tersangka Korupsi

"Jika ada industri yang mampu gesit dan cepat untuk menyesuaikan dan beradaptasi dengan perubahan besar. Itulah industri pencipta digital," tegas Oddie. Kendati bisnis influencer saat ini mampu bertahan, tetapi mereka tetap merasakan dampak yang cukup besar akibat low marketing budget.

Akan tetapi, dalam beberapa bulan ke depan, ia menilai semua perusahaan akan mampu menyesuaikan diri dengan pandemi dan kembali ke posisi pengelolaan anggaran seperti semula.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pada kesempatan yang sama, Antropolog dan Ahli Etnografi, Crystal Abidin, menilai permintaan peningkatan jumlah konten yang diunggah para digital content karena ada perubahan konsumsi dari para konsumen.

Ia lalu mencontohkan jika dahulu anak muda hanya bisa membuka ponsel atau laptop di pagi hari. Kini, saat pandemi pencarian menjadi lebih sering dari biasanya. "Mereka mencari dan me-refresh internet setiap jam. Jadi mereka butuh influencer untuk meningkatkan postingannya," ungkap Crystal.

Bendera China.

Pertama Kali Sejak Pandemo Covid-19, China Gagal Capai Target Pertumbuhan Ekonomi

China gagal mencapai target pertumbuhan ekonomi tahunannya, yang menggarisbawahi tantangan struktural yang semakin besar yang dihadapi ekonomi terbesar kedua di dunia.

img_title
VIVA.co.id
26 Juli 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut