Jangan Takluk Sama E-Commerce Asing di Kandang Sendiri

Gedung Telkom Indonesia.
Sumber :
  • www.telkom.co.id

VIVA – Langkah PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk atau Telkom yang mengalihkan strategi bisnis e-commerce dari ritel (customer to customer/C2C), dengan menutup Blanja.com, ke segmen UMKM dan korporasi (business to business/B2B) dinilai sudah tepat.

img_title 50 Perusahaan di 8 Provinsi Disegel Gegara Karhutla, Jika Terbukti Melanggar Denda hingga Rp 1 Triliun

Menurut Pengamat Telekomunikasi, Doni Ismanto Darwin, persaingan bisnis e-commerce, terutama sektor C2C, terbilang keras karena masyarakat masih tersihir oleh beragam promosi. Mulai dari cashback, diskon, hingga subsidi ongkos pengiriman sebagai daya tarik untuk belanja online.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Telkom itu perusahaan terbuka dan BUMN. Orientasinya tetap laba bersih dan pendapatan. Sementara bisnis e-commerce kan yang diincar pertumbuhan transaksi (gross market value/GMV) yang butuh dana besar sebagai bensin. Tapi belum tentu laba bersih dan pendapatannya ikut positif," kata dia, Senin, 7 September 2020.

img_title Aisar Khaled Dipolisikan! Begini Awal Mula Kasus Perjanjian Investasi Rp5,7 Miliar

Doni melanjutkan, karena Telkom tetap ingin eksis di e-commerce maka mereka melirik B2B sebagai pasar yang menguntungkan (lucrative market) yang lebih bisa dikelola rantai pasoknya. "Ini tentu langkah yang rasional bagi Telkom," jelasnya.

Kendati demikian, ia mengingatkan agar pemerintah lebih jeli melihat kompetisi di industri e-commerce karena ekosistemnya kini semakin dikuasai asing.

img_title Terima Kunjungan Delegasi Swedia, Pertamina Paparkan Strategi Transformasi dan Digitalisasi

"Platform pembayaran digital (payment) dan logistik mulai dikuasai asing. Tapi saya melihat pemain (e-commerce) lokal ada peluang di payment dan logistik. Kalau dilepas begitu saja, ya, siap-siap Indonesia hanya akan menjadi pasar. Jadi jangan sampai takluk begitu saja," tegas Doni.

Pada kesempatan terpisah, Pengamat Ekonomi Digital, Ignatius Untung, mengaku jika dilihat kategori di mana Blanja.com bermain memang ramai dan sangat ketat persaingannya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Totalnya ada 10 pemain lebih. Lima di antaranya sudah cukup dominan dan butuh investasi besar untuk mengejar mereka. Jadi dugaan saya Telkom berhitung dan mendapatkan hasilnya bahwa investasi di bidang itu Return On Investment (ROI) tidak sebaik ketika mereka masuk ke segmen B2B yang lebih sedikit pemainnya," tutur dia.

Ignatius juga melihat langkah keluar dari pasar C2C bukan karena mampu atau tidak mampu. Akan tetapi, Telkom dan ebay sebagai induk perusahaan dari Blanja.com punya uang untuk bisa bersaing.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut