Objek Antarbintang Pertama Jatuh di Halaman Belakang Indonesia

Papua Nugini, negara tetangga Indonesia.
Papua Nugini, negara tetangga Indonesia.
Sumber :
  • Google Earth.

VIVA Tekno – Pada 2014, sebuah objek jatuh ke laut di lepas pantai Papua Nugini, negara tetangga Indonesia. Data yang dikumpulkan pada saat itu menunjukkan kemungkinan objek antarbintang telah ada di Bumi dan itu menjadi yang pertama kalinya.

Meluncurkan ekspedisi bawah laut untuk menemukannya akan menjadi upaya yang sulit, meski begitu hasil ilmiahnya bisa memiliki dampak yang sangat besar.

Dijuluki CNEOS 2014-01-08, kandidat objek antarbintang itu diyakini memiliki lebar sekitar setengah meter. Asal-usulnya yang berasal dari antarbintang, pertama kali diprediksi oleh mahasiswa pascasarjana Amir Siraj dan profesor Harvard Avi Loeb.

Menggunakan data katalog mengenai lintasan objek, Siraj dan Loeb menyimpulkan bahwa itu mungkin datang dari luar Tata Surya kita karena kecepatan heliosentrisnya yang luar biasa tinggi.

Dengan kata lain benda itu bergerak bersama kecepatan yang menunjukkan bahwa itu tidak terikat dalam sumur gravitasi Matahari, menurut situs Science Alert, Minggu, 7 Agustus 2022.

Data yang digunakan untuk mengukur dampak objek dengan Bumi berasal dari satelit mata-mata Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang dirancang untuk memantau aktivitas militer Bumi.

Dengan demikian, nilai kesalahan pengukuran menjadi rahasia yang dijaga dengan hati-hati oleh militer AS. Mereka tidak membiarkan kemampuan akurat satelit menjadi informasi domain publik.

Namun tanpa perincian ini, sebagian besar komunitas ilmiah tetap tidak mau secara resmi mengklasifikasikan CNEOS 2014-01-08 sebagai objek antarbintang. Makalah Siraj dan Loeb bahkan tidak diterbitkan karena belum lulus peer review.

Bagaimanapun kaim mereka didukung ketika Kepala Ilmuwan Komando Operasi Luar Angkasa AS, Joel Mozer, meninjau data rahasia yang dimaksud dan mengkonfirmasi bahwa perkiraan kecepatan yang dilaporkan ke NASA cukup akurat untuk menunjukkan lintasan antarbintang.

Meski klasifikasi ilmiah resmi dari CNEOS 2014-01-08 masih abu-abu, pernyataan Angkatan Luar Angkasa AS tersebut sudah cukup untuk meyakinkan Siraj dan Loeb tentang asal usul antarbintang dan mereka mengusulkan cara untuk menemukan objek dan mempelajarinya dari dekat.

Namun, tidak semua harapan hilang karena data pelacakan dari satelit bisa dikombinasikan dengan data angin dan arus laut yang dapat memberikan area pencarian menjadi lebih masuk akal.

Lebih penting lagi, pecahan-pecahan itu diperkirakan bersifat magnetis sehingga kapal yang sedang berlayar dengan magnet besar berpotensi menyendok pecahan meteorit yang sangat kecil dari dasar laut.

Siraj dan Loeb mengusulkan untuk melakukan hal itu dan telah bekerja sama dengan perusahaan konsultan teknologi kelautan untuk mewujudkannya.