Rahasia Sukses Bisnis Buku Cetak di Era Digital

Ilustrasi digital.
Sumber :
  • Elastic Creative

Jakarta, VIVA – Di tengah derasnya digitalisasi, arus informasi hadir dalam bentuk video pendek, swipe cepat, dan algoritma personalisasi, namun bisnis buku cetak tetap bertahan.

img_title BGN Targetkan Digitalisasi Belanja Seluruh Dapur MBG pada Januari 2027

Produk ini memang tidak bersinar terang di layar gadget, tapi nyalanya tak pernah benar-benar padam di hati para pembaca.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Yogia Sembiring Meliala sudah melihat peluang itu sejak awal. Pendiri CV Yrama Widya ini tak memilih jalan populer ketika membangun usahanya.

img_title Jangan Sampai Jadi Korban Penipuan! Ini Web dan Media Sosial Resmi Pantau Informasi Bansos Digital

Ia tidak berlomba membuat platform digital atau aplikasi belajar namun justru bertaruh pada sesuatu yang dianggap banyak orang usang, yakni buku cetak.

“Saya percaya buku cetak tidak akan kehilangan tempat,” ujarnya di Jakarta, beberapa waktu lalu.

img_title Penipuan Digital Makin Marak, Ini Cara Mudah Melindungi Identitas dan Data Pribadi

Keyakinannya itu bukan lahir dari romantisme, melainkan dari pengalaman langsung melihat bagaimana buku cetak tetap menjadi kebutuhan utama di sekolah-sekolah di luar kota besar, tempat koneksi internet masih terbatas dan perangkat digital belum merata.

Ia memulai usahanya dari nol, tanpa modal uang. Hanya dengan kepercayaan dari penyedia kertas dan percetakan. Awalnya, ia hanya menyusun buku-buku soal pelengkap pelajaran.

Tapi ketika sekolah bertaraf internasional mulai berkembang, Yogia Sembiring Meliala menjadi pionir buku bilingual di Indonesia, salah satu langkah strategis yang membuat nama Yrama Widya dikenal luas.

Namun, pencapaian itu tidak serta-merta mengubah arah dasarnya. Ia tetap pada komitmen awal, menerbitkan buku yang relevan, mudah diakses, dan menjangkau lebih banyak siswa.

Di banyak tempat, terutama pelosok daerah, buku cetak masih menjadi andalan utama dalam proses kegiatan belajar-mengajar.

Yogia bukan penerbit besar dari awal. Ia lulusan ekonomi yang belajar dunia penerbitan dari bawah, dari meja administrasi hingga proses produksi dan distribusi. Semua ia pelajari sendiri alias otodidak.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ketika memutuskan mendirikan usahanya sendiri, ia tak punya karyawan. Hanya dorongan dari istrinya dan prinsip hidup sederhana, tidak takut susah dan menolak mudah menyerah.

"Kini, Yrama Widya memiliki ratusan karyawan dan jaringan distribusi di seluruh Indonesia. Tapi, semangat dasarnya tetap sama, mendistribusikan pengetahuan secara adil dan berkelanjutan," paparnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut