Ilmuwan RI Temukan Metode 'Pembasmi' Paham Radikal
- VIVA.co.id/Avra Augesty
Ia mengaku timnya mempunyai simulasi khusus dalam melakukan doktrin, sehingga ke depannya, mereka masih harus mengamati seperti apa deekstremisme. Dari penelitian itulah, Taruna menemukan bahwa sel-sel syaraf yang mengalami struktur spesifik terhadap orang ekstrem bisa diperbaiki.
Artinya, metode penyembuhan untuk orang berpandangan radikal sudah ada dan pengobatannya melalui deradikalisasi.
"Kalau polisi melakukan deradikalisasi dengan cara radikal, itu salah besar. Karena akan membuat dia (teroris) menjadi semakin radikal. Ada cara-cara spesifik dalam pengembalian fungsi otak. Kami temukan dalam waktu 24 jam," papar dia.
Taruna meneruskan, struktur sinaptik otak mampu berubah dari sebelumnya. Artinya, orang radikal mampu diperbaiki menjadi lebih baik.
"Makanya, saya ingin bicara dengan Wakapolri (Komjen Syafruddin). Saya rasa sudah saatnya neuro-leadership ini dipelajari oleh semua intelijen kita. Intinya, proses dengan pendekatan neurosains, kita mampu melakukan deradikalisme secara natural," kata dia. (ren)