Kurs Dolar AS Sentuh Rp15 Ribu, idEA: Ada Sisi Positifnya

Pengurus idEA 2018-2020.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Novina Putri Bestari

VIVA – Menguatnya kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah hingga menyentuh Rp15 ribu ditanggapi oleh Asosiasi E-Commerce Indonesia atau idEA ada sisi positif dan negatif.

img_title Menko Cak Imin Tegaskan Sinergi Pemerintah dan Media Buka Akses Pasar bagi Ekonomi Lokal

Menurut Ketua idEA, Ignatius Untung, sisi positifnya dilihat dari sisi funding atau pendanaan e-commerce. "Karena banyak investasi di e-commerce itu masih banyak dari luar," kata dia di Jakarta, Kamis, 6 September 2018.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ignatius melanjutkan, untuk investor, yang awalnya mengeluarkan dana X maka dengan adanya kenaikan dolar AS maka yang didapatnya menjadi 1,25 X yang disebabkan oleh selisih kurs.

img_title Gandeng POLRI, PT Pegadaian (Persero) Perkuat Sinergi Pengamanan dan Pemanfaatan Produk

Sementara sisi negatifnya, ia menuturkan barang impor yang dijual akan menjadi lebih mahal. Ignatius mengungkapkan jika kenaikan ini juga terjadi pada toko offline.

Jangan overprotektif

img_title Menkeu Suahasil: Utang Krisis 1998 Lunas, Kita Selesaikan di Agustus

Kendati demikian, meningkatnya nilai tukar dolar ini menjadi kesempatan bagi produk lokal untuk dibeli oleh masyarakat. Ia pun memberi catatan bahwa ujung-ujungnya adalah kualitas produk yang akan dibeli konsumen.

Soal produk lokal dan impor, Ignatius menyoroti sikap overprotektif terhadap barang lokal. Sebab, semuanya akan kembali pada kualitas barang tersebut, terlepas dari mana asalnya.

Ia menuturkan jika kualitas tidak bagus, mau diproteksi seperti apapun juga calon pembeli enggan untuk membeli. "Atau, orang ke luar negeri beli barang di sana lalu bawa ke sini. Itu lebih bahaya lagi itu. Barangnya ada di sini tapi pajaknya lari ke sana," jelas dia.

Ignatius mencontohkan telepon genggam buatan Indonesia, di mana produk ini penjualannya banyak tapi hanya menyasar pasar tertentu.

"Tapi kenapa misalnya Samsung, Apple, dan Xiaomi masih besar. Karena orang lihat ya lokal memang lebih murah tapi kok kualitasnya belum bagus," ujar Ignatius.

E-commerce bisa membunuh

Ia menambahkan kalau bukan hanya Indonesia yang mengalami kenaikan nilai tukar, tetapi India mengalami hal yang sama.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bukan cuma itu saja. Ignatius berpendapat bila idEA belum mengeluarkan sikap terkait wacana pembatasan barang impor di penjualan online oleh pemerintah.

Ia mengklaim belum punya data jumlah barang impor perusahaan yang berada di bawah organisasinya. "Salah satu pemain yang sudah klaim itu Bukalapak. Yang lain masih menghitung," paparnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut