Fokus di Profit, Bukan Bakar Duit

Pendiri dan Kepala Eksekutif Sribu Ryan Gondokusumo.
Pendiri dan Kepala Eksekutif Sribu Ryan Gondokusumo.
Sumber :
  • Dok. Sribu

Saat ini, lebih dari 26 ribu freelancer terkurasi dengan berbagai keahlian telah bergabung dengan Sribu dan telah melayani lebih dari 15 ribu klien yang merupakan pelaku usaha kecil dan menengah (UKM), hingga perusahaan multinasional.

Lalu, sebanyak 100 ribu pekerjaan telah diselesaikan oleh freelancer melalui platform crowdsourcing Sribu. Lantas, apa yang membuat Sribu mampu bertahan di tengah banyaknya startup bertumbangan?

"Kami mengejar profit, bukan bakar duit!" tegas Pendiri dan Kepala Eksekutif Sribu, Ryan Gondokusumo kepada VIVA Tekno, belum lama ini.

Ia pun bercerita bagaimana awalnya mendirikan startup yang bisnisnya berbeda dengan yang lain. "Awal mendirikan Sribu modalnya Rp40 juta. Mengusung konsep crowdsourcing, kami membuat layanan branding dan pemasaran digital semakin mudah diakses dengan kualitas terbaik," ungkapnya.

Menurut Ryan, terdapat lima keahlian yang akan semakin diperlukan di era perdagangan digital. Kelimanya yaitu pembuatan konten, pembuatan website, pembuatan aplikasi mobile, pemasaran via media sosial dan optimasi mensin pencari (search engine optimization/SEO).

Di era perdagangan digital banyak perusahaan yang melirik crowdsourcing untuk merekrut sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.

Adapun, keuntungan perusahaan menggunakan platform crowdsourcing adalah cepat menemukan pekerja freelance yang tepat dengan beragam jenis keahlian di bidang branding, content dan digital marketing.

Halaman Selanjutnya
img_title