Marak Fenomena 'Brain Drain', Jadi Harus Ngapain?

Ilustrasi pria bekerja di kantor.
Sumber :
  • Pixabay/StartupStockPhotos

VIVA Tekno – Belakangan ini, fenomena "brain drain" semakin menjadi topik hangat dalam diskusi tenaga kerja global.

img_title Kalau Mulai Sering Bilang 7 Kalimat Ini, Bisa Jadi Kamu Sudah Muak dengan Pekerjaan

Istilah ini merujuk pada perpindahan tenaga kerja terampil dari satu daerah ke daerah lain atau lebih seringnya dari suatu negara ke negara lain untuk mencari peluang karier yang lebih baik atau standar hidup yang lebih tinggi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Biasanya, para profesional seperti dokter, ilmuwan, insinyur, dan tenaga kesehatan yang terlibat dalam fenomena ini.

img_title Pemerintah Segel 21 Perusahaan Imbas Karhutla, Paling Banyak di Kalimantan Barat

Dampak dari "brain drain" bisa sangat merugikan, terutama ketika negara asal kehilangan tenaga ahli yang penting bagi perkembangan industrinya, sehingga pertumbuhan ekonomi pun terhambat.

Menurut data dari The Global Economy Human Flight Brain Drain Index, Indonesia menempati posisi keempat di Asia Tenggara dalam hal migrasi individu berketerampilan tinggi antara tahun 2007 hingga 2023. Laporan "Decoding Global Talent 2024: Tren Mobilitas Pekerja" oleh Jobstreet by SEEK mengungkapkan bahwa banyak profesional Indonesia mencari peluang karir yang lebih baik di luar negeri, dengan Australia, Jepang, dan Singapura sebagai tujuan utama mereka.

img_title Sebanyak 38 Perusahaan Baja Pengemplang Pajak Sudah Diproses Purbaya CS

Alasan utama di balik migrasi ini adalah kesempatan kerja yang lebih baik, kualitas hidup yang lebih tinggi, dan pendapatan yang lebih besar.

Dampak negatif dari "brain drain" sangat terasa di berbagai sektor. Kekurangan tenaga ahli terampil dapat memperburuk struktur ketenagakerjaan, menghambat kemajuan industri, dan pada akhirnya, menghalangi pertumbuhan ekonomi.

Fenomena ini juga bisa menggagalkan tujuan jangka panjang Indonesia, seperti visi Indonesia Emas 2045.

Keterbatasan lapangan kerja yang memadai serta kualitas pekerjaan yang tidak memadai mendorong para talenta terbaik untuk mencari peluang di luar negeri.

Untuk mengatasi masalah ini, Jobstreet by SEEK menawarkan beberapa rekomendasi bagi perusahaan dalam strategi rekrutmen dan retensi pekerja. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil:

1. Evaluasi dan Tingkatkan Kompensasi serta Manfaat

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ilustrasi: orang bekerja di kantor

Photo :
  • www.pexels.com

Perusahaan perlu menawarkan lingkungan kerja yang menarik dan kompetitif. Ini bisa dilakukan dengan meningkatkan kompensasi dan manfaat, serta menciptakan budaya kerja yang inklusif dan mendukung kualitas hidup yang baik. Fasilitas seperti tunjangan internet, subsidi biaya transportasi, dan program cuti khusus dapat menjadi daya tarik tambahan yang membuat karyawan enggan berpindah ke perusahaan lain atau bekerja di luar negeri.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut