Gojek Dimodali Asing Lagi, 'Salahnya' Orang RI Tak Berduit

Mitra pengemudi Gojek saat mengambil pesanan makanan untuk pelanggan.
Sumber :
  • REUTERS/Beawiharta

VIVA – Penyedia layanan berbagi tumpangan atau ride sharing, Gojek menerima suntikan investasi senilai Rp16,2 triliun dari investor asing. 

img_title Perkuat Ekosistem Transportasi Terintegrasi di Kota Bogor, PT KAI Gandeng Pemkot Bogor serta Gojek & Gopay

Suntikan dana tersebut berasal dari Google, BUMN investasi Singapura Temasek Holding, platform daring China Meituan-Dianping, firma ekuitas privat global KKR&Co LP (KKR) dan Warburg Pincus LLC. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Investasi itu menambah ‘darah’ asing dalam tubuh Gojek. Pada tahun lalu saja, Gojek mendapat suntikan dana investasi Rp1,32 triliun dari platform e-commerce China, JD.com.

img_title Menhub Dudy Dorong Aplikator Layanan Ride Hailing Terus Tingkatkan Kesejahteraan Mitra Driver

Rival terbesar Alibaba ini sebelumnya dikabarkan telah menggelontorkan dana melalui induk perusahaannya, Tencent Holdings Ltd, sebesar US$150 juta atau hampir Rp2 triliun ke Gojek pada Juli 2017.

Dirjen Aplikasi dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika, Samuel Abrijani Pangerapan, berpendapat investasi ke startup Indonesia itu tidak ada urusan dengan dikotomi asing atau non asing. Dia menekankan, investasi itu bicara bagaimana dana dikelola dan dimanfaatkan untuk menggerakkan bisnis. 

img_title Tarif Potongan Ojek Online Kini 8 Persen, Driver Mengaku Pendapatan Tak Berubah

"Kalau saya, uang (investasi) itu tidak ada warga negara, enggak ada agama. Kapan saja di mana saja boleh masuk masuk. Bagaimana investasi itu bisa dimanfaatkan lebih baik," kata pejabat yang akrab disapa Sammy itu di Gedung Perpustakaan Nasional, Jumat 19 Januari 2018. 

Menurutnya, Gojek beberapa kali diguyur investasi asing, karena memang investor luar negeri memang melihat startup asli Indonesia itu memang membutuhkan pendanaan. Sementara investor di Indonesia, menurutnya, belum melihat tertarik dengan potensi yang ada pada Gojek. Faktanya, kata dia, yang investasi ke Gojek selama ini cenderung dari luar negeri. 

"Kenapa enggak ada (dari dalam negeri) yang investasi (ke Gojek), karena enggak ada yang punya duit. Buktinya kalau ada (yang punya duit) ya, enggak ada orang Indonesia yang investasi," jelasnya. 

Belum Paham

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Soal minimnya investor dalam negeri yang menyuntikkan dananya ke Gojek, menurut Sammy, karena mereka belum begitu memahami potensi dalam ekonomi digital. 

"Yang punya duit orang Indonesia belum ngerti startup itu apa sih, tapi yang di sana (luar) itu melihat wah itu butuh uang tuh," ujar mantan Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) itu. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut