Pemimpin Bimbang dan Cara Kerja Otaknya
- VIVA/Amal Nur Ngazis
Menurut Taruna, amygdala layaknya lampu lalu lintas di persimpangan jalan. Makanya amygdala ini bisa berpengaruh pada lambat atau cepatnya seseorang mengambil keputusan. Di dalam amygdala terdapat hormon melatonin, dopamin serta kortisol.Â
Dia menjelaskan, amygdala merupakan tempat produksi neurotransmitter yang menjadi sentral terjadinya pergerakan atau transmisi dalam otak.Â
Otak memiliki dua transmisi yakni dalam bentuk hormonal atau transmisi menghantarkan listrik elektron dan apakah otak terhubung langsung. Dari tiga koneksi langsung itu, kata Taruna, apakah langsung atau lewat hormonal atau elektron.Â
"Ketiganya bisa pengaruhi pengambilan keputusan," tegasnya.Â
Seorang pengambil keputusan akan menggunakan memorinya di hippocampus dan area sublimbik melibatkan insting sang pengambil keputusan. Dalam proses ini, ada keterhubungan dari penglihatan, pendengaran dan sebagainya bersatu padu sehingga lahirlah keputusan A atau keputusan B.Â
"Dalam konteks itu sublimbik amygdala atau hippocampus di otak tengah itu bekerja sama terjadi sirkuit dan keputusan itu jalan akan kirim sinyal. Ada dikirim dua sinyal yakni neurotransmitter itu hormon otak ke daerah cortex di daerah depan, dari situ diolah diambil kebijakan prefrontal cortex, terus dikirim ke belakang untuk ambil keputusan gerakan apa. Misalnya keputusan A," jelasnya.Â
Pemimpin bimbang
Dalam kajian neuroleadership, Taruna mengatakan, pengambilan keputusan strategis yang ragu-ragu atau bimbang bisa dilihat dari tempo keputusan tersebut diambil.
Dalam sistem kerja otak maka akan melibatkan berapa lama waktu, berapa elektron, bagaimana neurotransmitter bekerja melakukan satu tugas respons atas informasi tertentu.
Kalau prosesnya memakan waktu lama itu, menurutnya bisa diartikan keputusan yang tidak tegas.Â
Â
"Kalau pemimpin yang bimbang itu mikir otaknya lebih lama. Dan dalam tiga aspek tadi di otak ada ranah neuro kompensasi. Makin pengalaman itu seharusnya makin lebih baik cepat. Pemimpin cukup lama ambil keputusan biasanya mungkin karena belum punya pengalaman, neuro kompensasi itu berlatih dengan kompensasi apa yang menjadi masalah di masa lalu," jelasnya. (ali)