Pemimpin Bimbang dan Cara Kerja Otaknya

Ahli otak dan neurosains Indonesia, Taruna Ikrar
Sumber :
  • VIVA/Amal Nur Ngazis

Menurut Taruna, amygdala layaknya lampu lalu lintas di persimpangan jalan. Makanya amygdala ini bisa berpengaruh pada lambat atau cepatnya seseorang mengambil keputusan. Di dalam amygdala terdapat hormon melatonin, dopamin serta kortisol. 

img_title 10 HP untuk Perawat dengan Harga Terjangkau, Bantu Bekerja Lebih Praktis Saat Shift

Dia menjelaskan, amygdala merupakan tempat produksi neurotransmitter yang menjadi sentral terjadinya pergerakan atau transmisi dalam otak. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Otak memiliki dua transmisi yakni dalam bentuk hormonal atau transmisi menghantarkan listrik elektron dan apakah otak terhubung langsung. Dari tiga koneksi langsung itu, kata Taruna, apakah langsung atau lewat hormonal atau elektron. 

img_title Prabowo Ungkap Alasan Bentuk Universitas Republik Indonesia: Ada Masalah SDM di Berbagai Institusi

"Ketiganya bisa pengaruhi pengambilan keputusan," tegasnya. 

Seorang pengambil keputusan akan menggunakan memorinya di hippocampus dan area sublimbik melibatkan insting sang pengambil keputusan. Dalam proses ini, ada keterhubungan dari penglihatan, pendengaran dan sebagainya bersatu padu sehingga lahirlah keputusan A atau keputusan B. 

img_title Prabowo: Penambahan Kekuatan TNI Demi Jaga Kedaulatan Negara, Anggaran Tak Sampai 2 Persen PDB

"Dalam konteks itu sublimbik amygdala atau hippocampus di otak tengah itu bekerja sama terjadi sirkuit dan keputusan itu jalan akan kirim sinyal. Ada dikirim dua sinyal yakni neurotransmitter itu hormon otak ke daerah cortex di daerah depan, dari situ diolah diambil kebijakan prefrontal cortex, terus dikirim ke belakang untuk ambil keputusan gerakan apa. Misalnya keputusan A," jelasnya. 

Pemimpin bimbang

Dalam kajian neuroleadership, Taruna mengatakan, pengambilan keputusan strategis yang ragu-ragu atau bimbang bisa dilihat dari tempo keputusan tersebut diambil.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam sistem kerja otak maka akan melibatkan berapa lama waktu, berapa elektron, bagaimana neurotransmitter bekerja melakukan satu tugas respons atas informasi tertentu.

Kalau prosesnya memakan waktu lama itu, menurutnya bisa diartikan keputusan yang tidak tegas. 
 
"Kalau pemimpin yang bimbang itu mikir otaknya lebih lama. Dan dalam tiga aspek tadi di otak ada ranah neuro kompensasi. Makin pengalaman itu seharusnya makin lebih baik cepat. Pemimpin cukup lama ambil keputusan biasanya mungkin karena belum punya pengalaman, neuro kompensasi itu berlatih dengan kompensasi apa yang menjadi masalah di masa lalu," jelasnya. (ali)

Presiden ke-7 RI Jokowi melihat langsung kondisi rumah warga yang rusak akibat gempa di NTT

Jokowi Dibilang Telat Datang ke Lokasi Gempa NTT, Grace Natalie: Daripada Nyinyir, Lebih Baik Bantu Warga

Sekretaris Dewan Pembina PSI Grace Natalie angkat bicara soal kritik terhadap kunjungan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) ke Pulau Palue, Kabupaten Sikka, NTT.

img_title
VIVA.co.id
20 September 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut