Lithium Afghanistan dalam Genggaman China
- Everything about sustainable energy
Lithium, bahan baku utama baterai untuk mobil listrik, smartphone dan laptop, menghadapi permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 20 persen dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu yang berkisar 5-6 persen.
Dalam sebuah memo dari Departemen Pertahanan AS (Pentagon) menyebutkan bahwa deposit lithium di Afghanistan bisa menyamai Bolivia yang selama ini dinobatkan sebagai produsen lithium terbesar dunia.
Ilustrasi smartphone.
- Pixabay
Menurut National Geographic, lithium menjadi pilihan utama bahan baku pembuatan baterai isi ulang karena mampu menyimpan lebih banyak energi per beratnya daripada bahan baterai lainnya. Para produsen baterai di dunia menggunakan lebih dari 160 ribu ton lithium setiap tahunnya.
Jumlah ini diperkirakan akan tumbuh hampir 10 kali lipat selama dekade berikutnya. Namun persediaan lithium terbatas dan hanya terkonsentrasi di beberapa negara, di mana logam tersebut ditambang atau diekstraksi dari air laut.
Kelangkaan lithium telah menimbulkan kekhawatiran bahwa kekurangan di masa depan dapat menyebabkan harga baterai meroket dan menghambat pertumbuhan kendaraan listrik dan teknologi lain seperti smartphone, laptop, dan panel surya yang bergantung pada lithium seperti Tesla Powerwalls, baterai stasioner yang sering digunakan untuk menyimpan tenaga surya di atap.
Permintaan logam mineral untuk mobil listrik yang tinggi didorong oleh lonjakan permintaan pada tahun ini, terutama China yang pangsa pasar mobil listriknya mencapai 15 persen dan Uni Eropa sebesar 19 persen – keduanya pada Juni 2021.
Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan permintaan logam mineral untuk energi bersih periode 2020-2040 semakin tinggi. Permintaan lithium misalnya, meningkat secara mengejutkan 13-42 kali. Disusul grafit 8-25 kali, kobalt 6-21 kali, nikel 7-19 kali, mangan 3-8 kali, tanah jarang 3-7 kali, dan tembaga 2-3 kali.
Selain itu, permintaan baterai lithium-ion diprediksi juga meningkat, dari 2,7 TWh menjadi 5,9 TWh per tahunnya pada 2030. Pasar baterai yang ketat adalah ujian berikutnya untuk mobil listrik setelah krisis chip.
"Permintaan baterai lithium-ion untuk transportasi dan penyimpanan energi akan melonjak hingga 5,9 TWh per tahun dalam 9 tahun lagi. Itu jelas akan membebani rantai pasok," demikian menurut IEA.