Deepfake Makin Mengerikan

Deepfake.
Sumber :
  • Pixabay

Tapi, jika tidak ada program baru untuk mengenali video-video palsu tentu akan sulit, begitu dikatakan pakar media André Wolf. "Harapan saya, kami juga akan memperoleh alat kerja lebih baik di masa depan, jika teknik semakin mudah dan tambah baik, supaya kami bisa mengenali kepalsuan dengan mudah," paparnya.

img_title Game Online, Media Sosial dan Deepfake: Bahaya Nyata yang Mengintai Anak

Karena, begitu banyak informasi palsu atau hoax menyebar cepat lewat media sosial, sebagai pengguna, orang harus kenal beberapa aturan penting. Awalnya, selalu tergantung setiap orang, kata Wolf dari Mimikama.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Deepfake.

Photo :
  • NAB Pilot

img_title Wajah dan Suara Bisa Dicuri AI, Penipuan Digital Kian Menggila

“Saya harus kenal diri saya dan bagaimana saya mengkonsumsi media. Karena kita tertipu terutama dalam topik-topik yang kita suka. Juga pada media-media tertentu, yang kita percaya," tutur Wolf.

Hal yang kedua adalah, kita harus meneliti, siapa penulisnya, jadi dari mana asalnya. Orang juga harus mampu menggunakan mesin pencari di internet, sehingga bisa mengadakan perbandingan. Ini tentu juga terkait pencarian gambar. Yang juga penting adalah konsumsi informasi.

img_title Polres Tangsel Diserang Hoax Saat Gencar Berantas Narkoba

Tapi bukan itu saja. Lebih banyak penyuluhan juga diperlukan. "Tentu saja kita ingin agar di sekolah-sekolah ada penyuluhan. Namun, ada masalah lain lagi. Kita kerap mengatakan di Facebook banyak berita palsu dan hoax yang seliweran. Tapi itu letak masalahnya. Kaum remaja tidak menggunakan Facebook," ungkap Wolf.

Menurutnya, yang menggunakan Facebook adalah orang yang berusia antara 35 hingga 55 tahun. Sekarang kita lihat masalahnya. Kita kurang mengadakan penyuluhan bagi orang dewasa." Sayangnya, salah duga hanya kelihatan setelah sesuatu terjadi," ujar dia.

ilustrasi spam call.

Mengaku Jadi Anggota DPR, Kedok Ribuan Nomor Ini Akhirnya Terbongkar

Kemkomdigi melaporkan telah memblokir 3.000 nomor telepon yang terindikasi digunakan untuk melakukan panggilan penipuan (spam call) dengan modus menyamar menjadi DPR.

img_title
VIVA.co.id
18 Mei 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut