Kontroversi Nuklir Jadi Energi Hijau
- DW
"Ini politik kotor dan merupakan hasil yang keterlaluan untuk memberi label gas dan nuklir sebagai label hijau dan membuat lebih banyak uang mengalir ke peti perang Putin," kata juru kampanye keuangan berkelanjutan Greenpeace Uni Eropa, Ariadna Rodrigo. "Kami akan melawan ini di pengadilan," tambahnya.
Paul Tang, seorang anggota parlemen Uni Eropa Belanda dengan Sosial Demokrat kiri-tengah, telah mengkritik rencana tersebut karena dipengaruhi oleh "lobi dari Gazprom dan Rosneft," keduanya perusahaan energi milik negara Rusia. Tang juga mengecam langkah itu sebagai "melembagakan greenwashing."
"Sekarang penting untuk mencegah pemungutan suara ini menjadi preseden bagi negara lain untuk meredam ambisi iklim," tegasnya. Christophe Hansen, seorang anggota parlemen Uni Eropa konservatif dari Luksemburg, mengatakan hasil pembahasan akan membuat taksonomi "yang usang".
"Kami mengorbankan masa depan hingga saat ini dengan memasukkan gas dan nuklir ke dalam taksonomi. Kepicikan ini merusak kredibilitas dan daya tahan taksonomi sebagai kompas jangka panjang bagi investor," jelas Hansen.
Bogdan Rzonca, anggota Parlemen Eropa dari Polandia untuk partai sayap kanan Hukum dan Keadilan (PiS), mengatakan negara-negara Uni Eropa yang kurang kaya membutuhkan investasi swasta dalam gas dan tenaga nuklir untuk dapat beralih dari batu bara.
Gilles Boyer, anggota Parlemen Eropa dari Prancis dengan grup Renew, mengatakan bahwa memenuhi permintaan energi dengan energi terbarukan dalam jangka panjang "akan ideal, tetapi itu tidak mungkin sekarang."
Perdana Menteri Ceko, Petr Fiala, yang negaranya baru saja mengambil alih kepresidenan bergilir Uni Eropa, mengatakan pemungutan suara ini adalah "berita bagus" untuk Eropa. "Ini membuka jalan menuju swasembada energi yang sangat penting untuk masa depan kita," tutur dia.