Membendung Gelombang 'Big Tech'
- Expat Guide Turkey
"Kami berada di fase awal perubahan besar, dan perubahan ini memakan waktu lama. Tapi, kami sedang membangun menuju sesuatu," tutur dia.
Mozilla Foundation yang berbasis di San Francisco, AS cenderung mengarah ke dunia modal ventura. Organisasi nirlaba itu dikenal pada awal 2000-an bersama dengan komunitas relawan internet membangun Browser Firefox sebagai perangkat lunak open source.
Dalam waktu kurang dari satu dekade, Firefox berhasil merebut sekitar 30 persen pangsa pasar. Namun, angka itu kembali turun, dan pada 2022, menjadi sekitar 4 persen dengan browser Google Chrome dan Apple Safari sekarang mendominasi pasar.
Mozilla meluncurkan Firefox Lite
- VIVA.co.id/Misrohatun Hasanah
"Open source menang dalam banyak hal dan sekarang digunakan dalam banyak hal," ungkap Baker. Itulah mengapa Mozilla Foundation, seiring berlanjutnya model nirlaba, meluncurkan dana investasi untuk startup teknologi tahap awal senilai US$35 juta (Rp550 miliar).
"Rencana ini untuk membantu generasi baru pengusaha teknologi yang bertanggung jawab mengembangkan teknologi dengan mematuhi standard privasi Mozilla. Harapannya, ketika banyak aturan privasi online diperketat di tahun-tahun mendatang, hal itu akan menjadi keunggulan kompetitif," kata dia.
Sementara, Direktur Proton Andy Yen, yang membuat layanan email terenkripsi 'Proton Mail', menambahkan jika situasi ini serupa dengan awal gerakan lingkungan, yang menjalani kerja advokasi selama beberapa dekade sebelum kesadaran publik terhadap isu itu bangkit dan menjadi arus utama.
"Sekarang kita tiba-tiba mencapai titik, di mana sikap tidak peduli dengan lingkungan tidak dapat diterima lagi secara sosial. Kesadaran publik tentang privasi online suatu hari akan mencapai titik kritis yang serupa. Mungkin butuh 20 atau 30 tahun, tapi perubahan itu tidak bisa dihindari," papar Yen.