Mengelola Karbondioksida

Ilustrasi karbondioksida/CO2.
Sumber :
  • Freepik

Akan tetapi, membuat produk-produk ini juga bisa menggunakan banyak energi. Mengubah CO2 menjadi polimer dan bahan bakar biasanya perlu lebih banyak energi dibanding aplikasi lainnya.

img_title Akselerasi Pengurangan Emisi Karbon, 7 Kawasan Industri di Bawah Holding BUMN Danareksa Lakukan Ini

Insinyur kimia Görge Deerberg mengatakan, mereka hanya bisa melakukan ini, jika punya energi hijau. Tentang efisiensi energi dalam produksi produk dan bahan dari CO2, ia mengungkapkan pendapatnya demikian.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Saya rasa ini masalah terbesarnya. Kita tidak punya cukup energi hijau untuk produksi bahan kimia hijau serta produksi baja hijau," tutur dia.

img_title Perangi Emisi Karbon Tidak Hanya Pakai Mobil Listrik

energi hijau, tumbuhan hidup dengan bantuan dari sinar matahari

Photo :
  • indoenergi.com

Deerberg mengingatkan bahwa kemungkinan manusia tidak akan menyelamatkan Bumi dengan membeli kaus kaki yang produksinya tidak melepas CO2 sama sekali.

img_title Soal Mandatori Campuran Etanol 10 Persen, Begini Kata Dirut Pertamina

Jumlah karbondioksida yang terkandung di dalam bahan kimia, plastik, dan serat akan terlalu kecil untuk menciptakan dampak signifikan dalam emisi global. Jumlahnya sekitar 40 juta hingga 90 juta ton per tahun.

Sebagai informasi, manusia melepas 33 miliar ton setiap tahunnya. Jadi, kita harus menggantikan karbondioksida dalam proses-proses jauh lebih besar. Percaya atau tidak, industri yang tepat adalah semen, karena 'hanya' 8 persen menyebabkan emisi karbondioksida di Bumi.

"Karena alasan kimia, kita tidak bisa memproduksi semen tanpa melepas CO2. Ini adalah industri yang harus melepas CO2," papar Deerberg.

Menurutnya, jika ada yang bisa menggantikan sebagiannya dengan karbondioksida yang didaurulang dari udara, maka jejak karbon dari fosil bisa dikurangi hingga 50 persen.

Tapi, lanjut dia, pasaran Carbon Capture and Utilization atau CCU masih ibaratnya anak bayi. Jadi, kita masih harus menginvestasikan dana besar bagi teknologi dan infrastrukturnya.

Untuk itu dibutuhkan uang sangat banyak. Tapi semua orang setuju bahwa potensinya ada. Perusahaan konsultasi McKinsey & Company memperkirakan, pasar produk-produk berbasis CO2 pada 2030 akan mencapai nilai antara US$800 miliar (Rp12.482 triliun) sampai US$1 triliun (Rp15.603 triliun).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Itu akan terjadi jika perusahaan bisa memperkirakan model-model bisnis di masa depan," jelas Deerberg.

Sejumlah pedagang tetap berjualan semasa aksi pemadaman lampu serentak di kawasan Bundaran HI

Pemadaman Lampu 60 Menit di Jakarta Kurangi Emisi karbon 74,23 Ton

Aksi pemadaman lampu selama 60 menit yang dilaksanakan untuk memperingati Hari Ozon Sedunia pada Sabtu 19 September mengurangi emisi karbon sebanyak 74,23 ton

img_title
VIVA.co.id
20 September 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut