Format Musik Digital Terpopuler

MPEG-1 Audio Layer 3 atau lebih dikenal dengan sebutan MP3 adalah salah satu format berkas pengodean suara. Format ini memiliki kompresi yang cukup baik (kendati bersifat lossy), sehingga ukuran berkas bisa memungkinkan menjadi lebih kecil.

Lalu bagaimana berkas tersebut mampu mengkompresi file suara menjadi sedemikian kecil? Ya, MP3 mengurangi jumlah bit yang diperlukan secara otomatis. Dengan menggunakan model psychoacoustic, berkas tersebut mampu menghilangkan komponen-komponen suara yang tidak terdengar oleh manusia.

Berkas yang memakai pengodean Pulse Code Modulation (PCM) ini dikembangkan oleh seorang insinyur Jerman Karlheinz Brandenburg. Di awal tahun 1970-an, prinsip dasar coding audio itu sendiri ditemukan oleh Prof Dieter Seitzer dari Erlangen-Nuremberg University, Jerman. Selanjutnya, Brandenburg bersama mitra-mitra pribadinya, termasuk Thomson, vendor elektronik asal Perancis, terus mengembangkan dan mensosialisasikan MP3 yang efisien secara global.

Sementara itu, menurut data Wikipedia, Selasa 7 Oktober 2008, MP3 memakai sebuah transformasi hybrid untuk mentransformasikan sinyal pada ranah waktu ke sinyal pada ranah frekuensi, meliputi:

* filter polyphase quadrature 32-band,
* 36 atau 12 MDCT (Modified Discrete Cosine Transform). Ukurannya dapat dipilih secara independen untuk sub-band 0...1 dan 2...31, dan
* postproses aliasing reduction.

Standar MPEG-1 tidak mendefinisikan secara spesifik cara melakukan encode MP3. Sebaliknya, algoritma decode serta format file didefinisikan secara spesifik. Oleh karena itu, di masa kejayaan MP3, bagi yang ingin mengimplementasikan encoder MP3 harus membuat sendiri algorima untuk menghilangkan bagian dari informasi pada file audio asal. Dengan kata lain pada representasi MDCT di ranah frekuensi.

Saat ini, sudah cukup banyak piranti lunak yang bisa diunduh secara gratis untuk sekadar meng-encode file MP3. Akan tetapi, seringkali kita temukan hasil encode setiap encoder MP3 berlainan dan kualitas hasil yang berlainan pula. Kendati demikian, hal tersebut kembali ke  
selera masing-masing manusia. Hal yang harus diperhatikan dari semua encoder yang ada, terdapat encoder yang bagus untuk bitrate tinggi maupun bitrate rendah.