LPPM IPB Dampingi Perluasan Jejaring Bisnis, Solusi UMKM

Pelatihan dan pengembangan UMKM berbasis digital (ilustrasi)
Pelatihan dan pengembangan UMKM berbasis digital (ilustrasi)
Sumber :
  • Istimewa

VIVA – Wakil Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Bidang Pengabdian Masyarakat IPB University, Dr Sofyan Sjaf turun lapang menggali informasi dan potensi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Desa Lingkar Kampus IPB University. Ia didampingi Dr Tjahja Muhandri, Dr Soni Trison dan Dr Wahyu Budi Priatna selaku Tim Komisi Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Pengabdian Masyarakat (07/10). 

Diskusi yang dihelat di Kawasan Patani Merdesa Coffee, Desa Cikarawang ini merupakan bagian dari Program Ko-Kreasi Program Pengabdian kepada Masyarakat. Diharapkan upaya tersebut bisa memberikan manfaat langsung dan seketika bagi UMKM maupun IPB University sendiri, (8/10).

Menurut Dr Sofyan, penggalian informasi tersebut dilakukan untuk memastikan kemampuan bertahan dan melebarkan jaringan bisnis UMKM di tengah masalah ekonomi di era pandemi COVID-19. Selama ini kegiatan UMKM pada umumnya menopang perekonomian daerah, perekonomian lokal, dan pemberdayaan masyarakat.  Bahkan, UMKM juga berperan di garda depan pembangunan ekonomi pedesaan.

“Saya melihat potensi UMKM ini memberikan dampak luar biasa bagi masyarakat, meski gerak kita terbatasi dengan adanya pandemi ini. Kami IPB University sebagai kampus inovasi mencermati apa yang dirasakan UMKM,” ungkap Dr Sofyan Sjaf dilansir VIVA dari laman IPB.ac.id.

Di hadapan Dr Sofyan Sjaf dan Tim IPB University, perwakilan UMKM membeberkan masalah yang sedang mereka alami. Seperti sulitnya memperoleh bahan baku, permodalan, pelanggan menurun, distribusi dan produksi terhambat sampai pada pasar yang kurang menjanjikan. 

Menjawab keluhan tersebut Dr Tjahja Muhandri mengatakan bahwa di situasi saat ini, UMKM jangan memaksakan diri terhadap produknya. “Ingat sifat UMKM itu, produk dapat cepat berganti menyesuaikan dengan kebutuhan pasar atau kebutuhan konsumen. Diversifikasi produk dengan produk konsumsi harian adalah salah satu solusi karena produk yang baik adalah produk yang dikonsumsi harian. Terakhir, tidak semua produk pertanian harus diolah, tapi bisa jual langsung tentunya dengan kualitas prima,” jelas Dosen IPB University bidang keahlian Manajemen Industri Makanan ini dalam keterangan persnya.

Ia kemudian menguraikan lebih lanjut bahwa yang menjadi salah satu kekurangan, hampir di setiap UMKM, adalah tidak adanya standarisasi resep dan formula.  Menurutnya, standarisasi tersebut adalah bagaimana menakar bahan, memilih kualitas bahan, cara pengolahan dan pengemasan yang baik. Selain itu, perlu adanya Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam produksi.