Kisah Tukang Kebun yang Berjuang untuk Kuliah di ITB Banten

Daud dan Fahad Miftahudin Mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Banten
Daud dan Fahad Miftahudin Mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Banten
Sumber :
  • Yandi Deslatama (Kota Serang)

VIVA Edukasi – Jika sebagian remaja sudah bisa merasakan kemerdekaan untuk menempuh jenjang pendidikan. Namun sebagian lainnya harus berjuang keras untuk mengenyam bangku akademik hingga jenjang perkuliahan. 

Seperti yang dirasakan Daud (22), Warga Carenang, Kabupaten Serang, Banten, pernah menjadi tukang kebun harian di dekat rumahnya dan menanam padi di sawah orang tuanya.

Sekitar satu tahun dia menjalaninya, tak malu dan tanpa mengeluh. Dia yakin suatu saat peruntungan datang padanya. Hingga suatu saat, oleh pemilik rumah yang rumput dan tanamannya selalu dirawat oleh Daud, menawarinya untuk berkuliah melalui jalur beasiswa penuh hingga lulus.

"Saya kan sering bantuin di rumahnya, ngebantuin kadang bersih-bersih rumputnya gitu, rumahnya di Carenang juga. Abis itu ditawarin, katanya ada beasiswa di kampusnya Bu Neneng, mau diambil apa enggak. Kata saya iya enggak apa-apa diambil aja kalau ada kesempatan, ya udah diambil," ujar Daud, ditemui di kampusnya, di Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Banten, Rabu (17/08/2022).

Dia pun memilih tinggal di kampus, ruangan BEM atau UKM menjadi tempatnya melepas lelah di malam hari. Mahasiswa semester enam dengan jurusan Keuangan Perbankan ini mengaku untuk memenuhi kebutuhan hariannya, seperti makan, dia membantu karyawan di ITB Banten yang membutuhkan tenaganya. 

Jika masih ada uang tersisa, rupiah itu digunakannya untuk ongkos pulang ke rumahnya, jika tidak ada tebengan untuk pulang kampung. Lantaran bapaknya tinggal seorang diri.

"Pulang seminggu sekali, kadang sama temen pulangnya, nebeng naik motor. Kalau enggak ada tebengan enggak pulang dulu, karena enggak ada ongkos. Makannya Alhamdulillah ada aja, kalau ngebantu foto copy di depan, jadi ada uang," terangnya.

Daud bercerita, bapaknya kini sudah berusia 62 tahun. Dulu dia tinggal seorang diri, sudah beberapa bulan ini kakaknya memilih menemani orang tuanya yang sudah tua itu. Ibunya sudah meninggal tahun 2012 silam.

"Harapannya bisa kerja di bank, sesuai jurusan. Biar bisa bantu orang tua juga di rumah," tuturnya.

Fahad Miftahudin

Daud dan Fahad Miftahudin Mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Banten

Daud dan Fahad Miftahudin Mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Banten

Photo :
  • Yandi Deslatama (Kota Serang)

Senasib sepenanggungan, Fahad Miftahudin (20) juga harus berjuang lebih untuk merasakan bangku kuliah di Ibu Kota Banten. Junior dari Daud yang kini duduk di semester empat ini bercerita, orang tuanya dulu ikut di sebuah perusahaan konveksi.

Namun semenjak covid-19 menerpa, orang tuanya tidak lagi bekerja dan hanya mengandalkan warga sekitar Pontang, Kabupaten Serang, Banten, yang membutuhkan jasa menjahit dirinya.

"Sejak awal pandemi sampai sekarang enggak kerja, ibu mah ibu rumah tangga, ngurus rumah. Alhamdulillah tiap ada orang yang mau ngejahit Alhamdulillah ada gitu, sekarang ngejahitnya di rumah," ujar Fahad, ditemui di kampusnya, Rabu (17/08/2022).

Dia bercerita bisa berkuliah dan mendapatkan beasiswa full hingga lulus usai ditawari pamannya yang melihat spanduk di pinggir jalan. Dengan biaya seadanya, dia mendaftar dan beruntung bisa diterima kuliah di ITB Banten, disertai berbagai sertifikat penghargaan yang dia punya.

Di sela-sela waktu senggangnya berkuliah, Fahad membantu ekonomi keluarganya. Lantaran sebagai anak pertama, dia ingin adiknya yang kini kelas 1 SMP tetap bisa bersekolah. Apapun pekerjaan yang bisa menghasilkan cuan, akan dikerjakannya.

Saat berkuliah, Fahad harus menahan keinginannya untuk jajan. Dia memilih membawa bekal masakan ibu nya dan menaruh air minum di tas nya untuk menghemat biaya.

"Pulang pergi tiap hari, kadang ada temen yang ngajak ya sama temen, sama sodara juga, terus naik angkot juga bulak balik. Paling ongkos sama minum aja. Itu dibawain bekel dari rumah," tuturnya. 

Sama seperti Daud, usai lulus Diploma tiga, dia ingin bekerja di perbankan untuk memperbaiki taraf perekonomian keluarga, agar kedua orangtuanya tidak lagi merasa susah di saat tau nanti.

"Setelah lulus mau pingin (kerja) kaya di bank, sesuai jurusan di sini keuangan," ucapnya.

Ketua Yayasan Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Banten, Yayan Alfian bercerita, awalnya perguruan tinggi yang dia dirikan bernama Akademi Akutansi dan Perbankan Indonesia (AAKPI) di tahun 2009, lantaran dia prihatin minimnya tenaga akutansi dan keuangan di Banten.

Ditambah, belum meratanya pendidikan di Banten kala itu, bangku kuliah dirasa masih mahal oleh sebagian orang kurang mampu untuk melanjutkan jenjang pendidikan.

"Jadi dasarnya saya bikin yayasan pendidikan itu, untuk turut serta membangun Banten dari sisi sumber daya manusianya lah," ujar Ketua Yayasan ITB Banten, Yayan Alfian, melalui selulernya, Rabu (17/08/2022).

Yayan berterus terang hanya memiliki 450 mahasiswa untuk program Diploma 3 di kampusnya. Kemudian, ada ratusan mahasiswa yang telah diberikan beasiswa melalui berbagai program, baik dari pemerintah maupun berasal dari keuangan ITB.

Dia bercerita menyeleksi ketat mahasiswa yang mendapatkan beasiswa. Selain persyaratan administrasi, ada tim khusus yang datang langsung ke rumah mahasiswa calon penerima beasiswa.

"Jadi ada yang kita berikan beasiswa penuh, ada yang 75 persen, ada juga yang 50 persen. Jadi kita pilah dulu. Kalau jujur, kampus memiliki keterbatasan, tapi kita subsidi silang," terangnya.