3 Contoh Teks Drama Singkat Berbagai Tema
- U-Report
VIVA Edukasi – Contoh teks drama singkat bisa menyangkut mengenai banyak tema, tergantung pilihan apa yang akan dibuat atau ditulis ulang. Apalagi, dalam menjalani kehidupan kita tidak bisa lepas dari yang namanya drama. Baik saat di lingkungan keluarga, sekolah hingga saat di lingkungan bermasyarakat.
Drama merupakan jenis karya sastra yang menggambarkan kehidupan manusia dengan gerak. Dalam dunia seni, drama bisa menjadi satu di antara hiburan untuk melepaskan penat.
Kata drama berasal dari bahasa Yunani 'draomai' yang berarti beraksi, bertindak, berbuat, dan berlaku. Pada hakikatnya, drama menggunakan beberapa tokoh untuk mengungkapkan dialog disertai gerak-gerik dan unsur artistik pertunjukan.
Ilustrasi menulis
- pixabay
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), drama merupakan komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan atau watak melalui tingkah laku atau dialog yang dipentaskan.
Secara umum, drama merupakan satu di antara aliran dalam sastra yang berisi komposisi syair atau prosa, yang diharapkan dapat menggambarkan perilaku kehidupan manusia di atas panggung.
Lantaran menggambarkan perilaku manusia yang lekat dengan kehidupan sehari-hari, drama akan diwarnai dengan konflik masalah untuk menghibur para penonton.
Dalam dunia seni dan sastra, drama bisa menjadi salah satu hiburan atau sebagai pengasah keahlian. Nah, bagi para pemeran tentu pementasan tidak dilakukan secara spontan.Â
Untuk itu, bagi kamu yang ingin atau akan membuat sebuah drama pertunjukan, ada baiknya tau atau mempelajari dulu contoh-contoh teks drama.
Berikut 3 Contoh Teks Drama SingkatÂ
Ilustrasi drama.
- U-Report
Contoh Teks Drama Singkat Persahabatan
Suatu hari lima sekawan sedang bermain bola di lapangan desa tempat mereka tinggal. Mereka memang sering bermain bola sore hari di lapangan tersebut. Dan saat ini mereka sedang beristirahat di pinggir lapangan.
Bayu: Dod, kamu dibawakan bekal apa sama ibumu? (sambil membuka kotak bekalnya).
Dodi: Aku dibawain bekal ayam goreng nih. Kalo kamu Bay?
Bayu: Aku dibawain bekal udang besar sama bundaku. Soalnya kemarin ayahku menangkap udang bersama ayah Ehsan.
Dodi: Jadi bekalmu juga juga pake udang San?
Ehsan: Iya Dod. Aku samaan sama Bayu (tersenyum semringah).
Dodi: Waaahhh enaknya… aku juga suka sekali udang. Kalo kamu ham?
Ilham: Aku dibawain sayur daun ubi dengan ikan sambal Dod. Makanan kesukaanku.
Dodi: Wahhh, itu juga tak kalah enaknya. Kalau kamu, Ton?
Anton: (tersenyum meringis) Aku gak bawa bekal. Ibuku pagi-pagi sekali suda bekerja karena abangku akan masuk SMA. Maka dari itu ayah sama ibu harus giat mencari uang. Jadi ibuku tak sempat masakin aku bekal (sedih).
Dodi: Ya sudah, Ton. Kamu masih bisa kok makan bersama kami.
Anton: Maksudnya ?
Ehsan : Gimana kalo kita ramai-ramai makannya biar Anton juga bisa makan, makanan kita.
Ilham: Bagaimana caranya ?
Ehsan : Begini saja, bagaimana kalo kita makannya pakai daun pisang? Jadi makanan kita, kita tuang ke daun pisang itu. Biar kita semua bisa makan bareng-bareng.
Dodi: Ide bagus tuh. Ayo!
Ilham dan Bayu mengambil daun pisang yang tak jauh dari tempat mereka. Dan mereka semua menuangkan makanannya di daun pisang tersebut. Mereka makan dengan lahap.
Anton: Terima kasih ya teman-teman. Cuma kalian teman yang mengerti keadaanku.
Bayu: Siap. Santai aja, Ton (tersenyum).
Contoh Teks Drama Singkat Kisah Rakyat
Malin Kundang, Acara Enjoy Indonesia di Praha Ceko
Malin Kundang adalah seorang anak yang telah lama merantau meninggalkan tanah kelahirannya. Ia mengembara mengadu nasib demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Ia meninggalkan Mande, ibu kandungnya seorang diri di tanah kelahirannya. Singkat cerita, akhirnya Malin Kundang berhasil menikah dengan seorang putri saudagar kaya raya. Ia pun kembali ke tanah kelahirannya bersama sang putri.
Malin : "Istriku, inilah tanah kelahiranku dulu." (Sambil menunjuk ke arah daratan dari atas perahu yang bersandar)
Putri : "Sungguh indah sekali tanah kelahiran kau ini Kanda."
Mande : (Berlari tertatih-tatih) "Malin! Kau kah itu nak?" (Berteriak kegirangan)
Putri : "Siapakah wanita tua itu Kanda?"
Malin : (Menyembunyikan wajah terkejut ketika melihat ibunya berlari ke arah perahu) "Kanda tak tahu Dinda. Mungkin itu hanya pengemis yang ingin meminta sedikit sumbangan dari kita saja. Sudah jangan pedulikan lagi dia."
Mande : "Malin, ini ibumu nak. Sudah lupakah kau pada ibu yang telah mengandung dan membesarkan kau ini Malin?"
Malin : "Wahai wanita tua! Jangan sekali-kali kau berani mengaku sebagai ibuku. Enyahlah kau! Ibuku bukan wanita tua renta sepertimu, dan ibuku sudah lama meninggal. Pergi kau dari sini! Jangan sampai kau mengotori kapalku ini!" (Berteriak emosi sambil menunjuk ke ibunya)
Mande : (Ia menangis menahan kesedihan) "Ya Tuhan, kenapa pula anakku berubah menjadi seperti ini? Apa salahku ini Tuhan? Jika memang ia bukan anakku, maka maafkanlah ia yang telah menghinaku ini. Namun jika ia benar anakku si Malin Kundang, maka hukumlah dia yang telah durhaka itu." (Sambil menengadahkan tangan memohon kepada Tuhan)
Tiba-tiba terdengar suara gemuruh, petir datang menggelegar. Badai besar tiba-tiba datang dan kapal Malin Kundang terbalik. Seketika kilat menyambar tubuh Malin dan istrinya. Anehnya, mereka berdua kemudian berubah menjadi batu. Itulah kekuatan doa seorang ibu. Jangan sampai kita menjadi anak yang durhaka kepada kedua orang tua.
Contoh Teks Drama Singkat Keluarga
Ilustrasi keluarga
Pada senja itu ibu dan anak gadisnya seperti biasa duduk di bangku panjang depan rumahnya. Mereka tengah menatap senja menunggu, menanti seseorang yang telah lama dinanti. Setelah larut dalam diam beberapa saat, sang anak memulai
pembicaraan.
Anak : "Ibu...jangan kau ceritakan lagi apa pun tentang ayah."
Ibu : "Kenapa?"
Anak : (Sambil memandang ke arah langit) "Karena Ayah tak pernah datang, dan ku kira ia memang tak akan pernah datang."
Ibu : "Ayahmu berjanji akan datang saat senja."
Anak : "(Meninggikan nada bicara) Sudah tak terhitung lagi jumlah senja yang kita lalui..di sini..tempat ini...sedari dulu waktu aku masih dalam kandungan hingga kini, namun Ayah tak jua datang."
Ibu : "Ayahmu lelaki yang baik. Ia akan datang, ia pasti datang menepati janjinya.
Anak : (Terus mencecar) "Kenapa Ayah berjanji akan datang saat senja? Kenapa tidak pagi atau siang saja?"
Ibu : "Karena senja bukan akhir, ia adalah permulaan sebuah hari."
Anak : (Dengan nada tinggi) "Haaaaah....Sudahlah! Aku tak mengerti maksud perkataan Ibu itu. (Masuk ke dalam rumah)