Universitas Bakrie Dukung Program Zero Waste dan Agrowisata di NTB
- Satria Zulfikar
Selain bekerja sama dalam pengelolaan sampah, Universitas Bakrie juga menawarkan NTB bekerja sama di bidang pendidikan.
"Kami memilih NTB sebagai mitra kami. Kami siap pendampingan inovasi magot dan pengelolaan sampah. Kami juga tawarkan kerjasama bidang pendidikan. Kami ada program S1 dan S2," ujarnya.
Wakil Gubernur NTB, Sitti Rohmi Djalilah, mengatakan sangat bahagia berada di forum yang diselenggarakan Universitas Bakrie. Apalagi sama-sama memiliki ikhtiar mewujudkan NTB yang bebas dari sampah.
"Saya sangat bahagia berada di forum ini karena ini bagian ikhtiar kami mewujudkan NTB bersih dan NTB hijau," katanya.
Dia mengatakan program bebas sampah atau nol dedoro (sampah bahasa Sasak) tidak mudah dan memiliki hasil bersifat jangka panjang.
"Beda dengan program infrastruktur yang bisa kita lihat hasilnya enam atau satu tahun," ujarnya.
Rohmi mengatakan memang sudah ada program BFS di NTB, namun itu sejauh ini belum menjadi industri. Hanya bersifat pengelolaan sampah biasa. Dia berharap ke depan semua kabupaten dan kota memiliki rumah magot.
"Karena sebenarnya penanganan sampah itu jadi tanggungjawab kabupaten kota, bukan Pemprov. Kita harus mengelola sampah organik ini, karena bisa jadi sumber penyakit jika tidak ditangani," kata kakak kandung TGB Zainul Majdi ini.
Dia berharap masyarakat jika melihat ada tumpukan sampah untuk bisa sadar dan bisa membersihkan sendiri tanpa menunggu pemerintah.Â
Dia menjelaskan telah membentuk 99 desa wisata di NTB agar nantinya fokus mengelola sampah.
"Strategi kita mendorong desa wisata agar semua fokus. Di tempat kita didatangi banyak orang, tidak boleh kotor, masyarakat tidak boleh sakit-sakitan, dan tentu harus pintar," ujarnya.