AICIS 2024 untuk Perdamaian dan Keadilan Dunia
- Istimewa
Demikian juga di belahan dunia lain, di mana agama dijadikan "alat" sekaligus "korban" untuk kepentingan politik, ekonomi, budaya, klaim sejarah, dan seterusnya. Sehingga, peristiwa kemanusiaan yang melibatkan atau mengatasnamakan agama sampai hari ini bisa disebut sebagai kelanjutan dari kisah konflik antar manusia dalam sejarah yang melibatkan agama. Lalu, akankah agama dapat menjadi solusi bagi krisis kemanusiaan yang setiap tahapan sejarah selalu muncul?
Untuk menjawab persoalan tersebut, penyelenggaraan AICIS tahun ini ingin memberikan kontribusi tentang bagaimana agama seharusnya diperankan dalam krisis kemanusiaan global, baik akibat perang, perubahan iklim, isu-isu ketidakadilan gender, dan lain-lain. Kementerian Agama Republik Indonesia yang diberi tugas negara dalam pembangunan bidang agama merasa terpanggil memikul beban tanggung jawab terhadap kemaslahatan dan keberlangsungan kehidupan beragama demi terwujudnya kedamaian, kesejahteraan, dan kesetaraan umat beragama di Indonesia dan menyebarkan ke tingkat global.
Oleh karena itu, dalam rangka mewujudkan tanggung jawab ini diperlukan pemikiran yang sistematis dan komprehensif dari para cendekiawan dan praktisi melalui AICIS sebagai salah satu wahana untuk mendiskusikan peran dan tanggung jawab tersebut. Langkah ini untuk mengejewantahkan nilai-nilai dan kajian keagamaan (Keislaman) yang menuntut akademisi, praktisi dan lainnya untuk berani speak-up ke dunia luar yang telanjur dikuasai oleh narasi buruk bahwa agama menjadi problem bagi kehidupan.
Kehadiran agama yang di dalamnya bersisi nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan tidak sepatutnya menjadi “terdakwa” dalam peristiwa demi peristiwa krisis apapun. Agama lahir justru sebagai “drive” bagi pemeluknya agar mereka dapat menemukan apa yang selama ini banyak orang disebut kebahagiaan lahir dan batin. Hanya masalahnya, ketika agama telah dianut, dipahami, dan diimplemetasikan ajaran-ajarannya seringkali justru menimbulkan paradoksi sosial dari esensi agama itu sendiri.
Tindakan apapun yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan yang diatasnamakan agama tampak sekali bahwa itu disebabkan dari hal yang kompleks. Salah satunya adalah ketidakmampuan sebagian pemeluk agama dalam memahami nilai-nilai universal agamanya. Substansi agama telah direduksi oleh pemahaman yang sempit, apalagi bercampur dengan kepentingan sesaat, baik politik, ekonomi, budaya, dan lainnya.