Life Skills for All Learners, Antarina Gagas Pendidikan yang Memerdekakan dan Berdaya Saing

Antarina SF Amir, cucu Ki Hadjar Dewantara yang juga pakar pendidikan
Sumber :
  • Istimewa

Jakarta, VIVA – Hari Pendidikan Nasional menjadi momentum refleksi kritis terhadap arah pendidikan di Indonesia di mana di era globalisasi dan digitalisasi ini, soft skills atau life skills seperti kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, kreativitas, dan pemecahan masalah, justru menjadi kunci bagi siswa dalam menghadapi berbagai tantangan masa depan.

img_title Perkuat Ekosistem Pendidikan Berkualitas, Pelita Harapan Group Grand Launching SDH Global Bandung

Dalam bukunya, “Life Skills for All Learners: How to Teach, Asses, and Report Education’s New Essential” yang diterbitkan ASCD, Amerika Serikat., Antarina SF Amir, cucu Ki Hadjar Dewantara yang juga pakar pendidikan, menyebut ada delapan pilar penting life skills yang perlu dibentuk melalui proses pembelajaran dari pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga pendidikan dasar menengah (SD, SMP, dan SMA). 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Buku yang disusun Antarina SF Amir, Thomas R. Guskey dan tim Redea Institute ini membahas delapan fundamental life skill tersebut, yakni: Meta Level Reflection, Expert Thinking, Creativity and Innovation, Adaptability and Agility, Audience Center Communication, Synergistic Collaboration, Emphatic Social Skills, serta Ethical Leadership.  

img_title Karhutla 'Kepung' Kalimantan, Pemerintah Pastikan Proses Belajar Siswa Utamakan Keselamatan

“Fondasi pendidikan yang kokoh harus diletakkan sejak usia dini hingga sekolah menengah atas. Ini mencakup pengembangan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, berkomunikasi, serta, berkolaborasi,” tegas Antarina yang sempat menjadi pembicara di konferensi pendidikan internasional di Hong Kong dan New York (Amerika Serikat) untuk memaparkan buku karyanya. 

Keterampilan-keterampilan dasar ini, lanjutnya, akan menjadi landasan bagi siswa untuk belajar secara mandiri, bekerja sama dengan orang lain, serta memahami dan mengolah informasi di berbagai bidang ilmu. 

img_title Sekolah Garuda Asah Talenta Jadi Pemain Utama Pasar Dunia

Dia juga menyampaikan, Gen Z yang tumbuh di era digital (digital native) seringkali dianggap sebagai generasi yang melek teknologi. “Namun, minimnya kemampuan Meta Level Reflection dan Expert Thinking dapat menghambat literasi digital mereka yang sebenarnya,” jelasnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Literasi digital bukan hanya tentang kemampuan menggunakan perangkat dan aplikasi, tetapi juga tentang kemampuan untuk mengevaluasi informasi secara kritis, memahami implikasi etis dari teknologi, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab dan produktif, ujar Antarina. 

Jika Gen Z tidak memiliki kemampuan Meta Level Reflection dan Expert Thinking yang kuat, mereka mungkin menjadi konsumen pasif teknologi, mudah terpengaruh oleh disinformasi, dan kurang mampu memanfaatkan teknologi untuk inovasi dan pemecahan masalah. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut