Artificial Intelligence di Mata Ulama dan Akademisi: Sorotan MHM di Panggung Utama IBF 2025
- Istimewa
Ia juga menyampaikan kekhawatiran tentang AI yang menjawab berdasarkan data lama yang belum tentu relevan atau sesuai dengan konteks lokal. “Jawaban AI bisa tepat untuk satu negara, tapi bisa jadi keliru jika diterapkan di Indonesia,” tegasnya, merujuk pada diskusi para ulama internasional yang baru-baru ini berlangsung di Bahrain.
Majelis Hukama Muslimin (MHM) menggelar diskusi AI di Islamic Book Fair 2025.
- Istimewa
Rezzy Eko Caraka: AI untuk Membantu, Bukan Menggantikan
Dalam sesi berikutnya, Rezzy Eko Caraka menjelaskan bagaimana AI seharusnya difungsikan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti manusia. "AI tidak memiliki kesadaran moral seperti manusia. Ia hanya bekerja berdasarkan data dan algoritma," ujarnya.
Ia menyoroti berbagai manfaat AI, seperti:
- Merancang strategi permainan olahraga.
- Mendeteksi transaksi keuangan yang mencurigakan.
- Menerjemahkan bahasa isyarat ke dalam suara.
- Membantu analisis kebutuhan infrastruktur, seperti rumah sakit kanker.
- Membantu dalam kajian Al-Qur’an, misalnya dalam pelacakan kata kunci seperti “zakat” dan korelasinya antar ayat.
Namun, Rezzy juga mengingatkan berbagai risiko AI, di antaranya:
- Kebocoran Data Pribadi
Banyak pengguna yang tidak sadar menyerahkan informasi pribadi ke platform AI secara sembarangan. - Menurunnya Kemampuan Berpikir
Ketergantungan pada AI bisa membuat manusia malas berpikir kritis. - Dampak Lingkungan
Server AI memerlukan pendingin dan air dalam jumlah besar, yang bisa berkontribusi pada krisis lingkungan.
“AI adalah alat, bukan tujuan. Kita harus bijak dan bertanggung jawab dalam menggunakannya,” pesannya menutup presentasi.
Menko PMK Pratikno: Indonesia Butuh Kedaulatan dalam AI
Sebagai penutup, Prof. Pratikno mengangkat isu yang sangat strategis: kedaulatan teknologi, khususnya AI, untuk masa depan bangsa.
Ia memaparkan bahwa lebih dari 78% warga Indonesia memiliki akses internet dan termasuk negara pengguna aplikasi AI terbesar ketiga di dunia. Namun sayangnya, Indonesia belum menjadi produsen AI, masih menjadi konsumen data dan teknologi negara lain.
“Kalau data dan nilai-nilai lokal tidak dimasukkan, AI akan menyajikan jawaban dari perspektif luar yang tidak selalu relevan dengan budaya dan agama kita,” ungkapnya.
Prof. Pratikno mengingatkan bahwa AI dapat berdialog, tapi bukan netral. Jawaban AI tergantung data dan algoritma yang ditanamkan. Karena itu, ia mendorong organisasi besar seperti PBNU dan Muhammadiyah untuk mengembangkan platform AI sendiri.