Sinergi Industri: Perguruan Tinggi Perlu Jembatan Tol
- VIVA | Teguh Joko Sutrisno (tvOne)
"Oleh sebab itu usul saya agar Anggaran Pemerintah yang dialokasikan di Super Deduction Tax Program yang tadinya dialokasikan untuk R and D barangkali bisa diperluas ke program Praktisi Mengajar," lanjutnya.
Setelah regulasi diharmonisasi, strategi berikutnya adalah menyediakan platform kolaborasi. Platform digital menjadi faktor penting karena dapat mengatasi kendala konvensional seperti jarak dan waktu. Agar memberikan dampak besar, platform tersebut perlu mematuhi prinsip demokratisasi, kemudahan, interoperabilitas, dan keamanan. Inisiatif berupa Kedai Reka yang dilakukan pemerintah perlu dikembangkan dengan melibatkan lebih banyak pihak.
Agar kedua strategi tersebut dapat diimplementasikan, masalah egosektoral yang menjadi masalah laten dalam kerja sama antarinstitusi juga harus dituntaskan.Â
Terkait hal ini, Gunawan Tjokro mengidentifikasi ada dua masalah utama munculnya ego sektoral yaitu ketiadaan visi bersama dan kompetisi sempit. Ketidaaan visi bersama dapat diatasi oleh kepemimpinan yang kuat. Adapun kompetisi sempit yang membuat kementerian dan lembaga seolah-olah bersaing satu sama lain perlu diatasi dengan pendekatan Whole of Government (WoG).Â
Tiga strategi tersebut, jelasnya, memang tidak mudah dan dapat dinikmati hasilnya dalam waktu singkat. Namun ketiganya perlu dilakukan karena manfaat yang diperolehnya bisa sangat besar. Manfaat langsung yang dirasakan oleh industri dan perguruan tinggi adalah diperolehnya sumber daya manusia kompeten, menurunkan angka pengangguran terdidik, dan tersedianya akses pendanaan untuk pengembangan perguruan tinggi. Namun di luar manfaat langsung itu, bangsa Indonesia akan memperoleh keuntungan karena meningkatkan indeks pembangunan manusia (HDI) dan global competitiveness index (GCI).