Panas di Dua Laga Pamungkas Liga 2
- https://www.liga-indonesia.id
Diakui Djanur, dari awal Persebaya memang difavoritkan untuk keluar sebagai juara. Itu berbanding terbalik dengan timnya, yang sempat terseok-seok di fase grup.
"Besok akan all out dengan kemampuan yang kami punya. Kami prediksi akan alot karena Persebaya sudah lama difavoritkan untuk juara di Liga 2 dan kami coba melawannya," tutur Djanur.
Perebutan Peringkat Tiga Tak Kalah Panas
Mungkin tajuknya saja perebutan tempat ketiga, namun fakta di lapangan, duel antara Martapura FC melawan PSIS tidak kalah atau mungkin bisa lebih panas dari laga final Liga 2.
Seperti sudah disebutkan, ini ibarat duel hidup-mati. Pemenang duel akan naik kasta, sedangkan yang tumbang harus rela menjajal peruntungan kembali dari awal di Liga 2 musim depan.
Kedua kubu pun sudah bertekad untuk tampil habis-habisan dalam pertandingan ini. Mereka sadar laga tersebut menjadi kesempatan terakhir yang tak bisa disia-siakan.
Pelatih Martapura, Frans Sinatra Huwae, mengatakan, timnya sudah berbenah jelang duel nanti. Dia meminta skuat agar tampil lepas, tidak seperti ketika menghadapi Persebaya.
"Yang pasti kami fokus ke tim dulu, kami bersyukur besok Qischil Gandrum bisa main dan itu menambah motivasi. Saya berharap para pemain bisa main lepas tanpa beban," kata Frans.
Hal senada diungkapkan Subangkit, selaku arsitek PSIS. Salah satu motivasi yang diusung Laskar Mahesa Jenar adalah menjadi satu-satunya tim Jawa Tengah yang tampil di Liga 1 tahun depan.
"Kami akan tetap berjuang. Kami akan berupaya merebut tiket promosi untuk Jawa Tengah," tutur Subangkit.
Hegemoni Perserikatan dan Kembalinya Partai Klasik
Bukan cuma berjuang atas nama Jawa Tengah, andai PSIS mengalahkan Martapura, itu akan membuat kembalinya hegemoni klub perserikatan di Liga 1. Tercatat bakalan ada sembilan klub yang kental basis kedaerahannya.
Pada Liga 1 2017, klub perserikatan mendapat pukulan telak. Karena klub yang baru seumur jagung, Bhayangkara FC jadi juaranya. Dan PSM Makassar sebagai wakil perserikatan cuma mampu finis di tempat ketiga.
Dikutip dari Novan Media Research, kompetisi antarklub Perserikatan Indonesia pertama kali diselenggarakan pada 1931. Ketika itu, klub asal Jakarta, Voetbalbond Indonesische Jacatra (VIJ) keluar sebagai juara.