Hari Perempuan Internasional, Ini 5 Perempuan Paling Berpengaruh Dunia
- Image credit: Supreme Court of the United States/Steve Petteway
VIVA – Hari Perempuan Internasional atau disebut juga dengan International Women's Day memang selalu dirayakan setiap tahunnya pada tanggal 8 Maret sebagai hari peringatannya. Peringatan ini menjadi momen penting bagi perempuan sebagai sebuah prestasi perempuan di bidang sosial, ekonomi, budaya, serta politik. Ada banyak perempuan berpengaruh sepanjang sejarah yang telah membuat dampak besar pada masyarakat melalui aktivisme, seni, politik dan kepemimpinan. Hal itu sebagai kesempatan yang sempurna untuk menemukan lebih banyak tentang revolusioner perempuan, politisi dan juru kampanye yang terlalu penting untuk dilupakan.
Lantas, siapa saja itu? Melansir dari Live Science, berikut ini sejumlah perempuan paling berpengaruh dalam sejarah dunia.
1. Ruth Bader Ginsburg (1933-2020)
Ruth Bader Ginsburg
- Image credit: Supreme Court of the United States/Steve Petteway
Ruth merupakan perempuan yang berkarier sebagai pengacara, hakim dan hakim agung Mahkamah Agung. Dirinya dikenal menjadi salah satu pendukung utama kesetaraan gender. Komitmen Ginsburg terhadap prinsip keadilan yang setara di bawah hukum mengubah lanskap hukum di AS, khususnya bagi perempuan. Ruth Bader Ginsburg meninggal dunia pada September 2020.
Pada tahun 1993, Presiden Bill Clinton menominasikannya ke Mahkamah Agung, di mana dia bekerja selama 27 tahun melalui kanker dan penyakit lainnya. Sejarah perbedaan pendapatnya di pengadilan membangunnya sebagai ikon dan membuatnya mendapatkan julukan "RBG Notorious”. Sepanjang kariernya, Ginsburg mempromosikan hal-hal seperti kesetaraan keuangan bagi wanita, kesetaraan dalam pendidikan, hak LGBTQ+, hak-hak sipil untuk imigran dan orang-orang yang tidak berdokumen, dan hak-hak penyandang disabilitas.
2. Harriet Tubman(1822-1913)
arriet Tubman
- Image credit: Benjamin F. Powelson, Auburn, NY
Harriet Tubman dilahirkan dalam perbudakan hingga akhirnya ia menemukan kebebasannya dengan bepergian sendiri melalui kereta api bawah tanah. Pada tahun-tahun berikutnya, Tubman terus membebaskan sekitar 300 orang yang diperbudak. Tubman memulai pekerjaannya di kereta api bawah tanah dengan mengambil anggota keluarganya sendiri, termasuk orang tuanya, beberapa saudara dan berbagai keponakan.
Ketika Perang Sipil dimulai, ia mendukung Union yang bekerja sebagai mata-mata dan perawat sebelum memimpin Serangan Ferry Combahee yang berani membebaskan lebih dari 700 orang yang diperbudak. Setelah itu dirinya menjadi seorang penyuara dalam gerakan abolisionis dan juga berjuang untuk hak suara bagi perempuan, membantu membentuk jalan dari perbudakan dan diskriminasi menuju keadilan di Amerika Serikat.