Pramono: Ondel-ondel Tidak Digunakan untuk Ngamen!

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung.
Sumber :
  • Navaswara.

Jakarta, VIVA – Di tengah derasnya arus modernisasi, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyoroti pentingnya menjaga identitas budaya, terutama ketika tradisi lisan seperti cerita rakyat mulai kehilangan tempatnya di tengah masyarakat.

img_title Pramono Anung Tawarkan Jakarta Bangun Halte Transjabodetabek di Bekasi

Namun, Pramono tidak hanya menegaskan komitmennya melestarikan cerita rakyat, tetapi juga menyampaikan pandangannya yang tegas mengenai keberadaan ondel-ondel di ruang publik. Seperti apa? Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pramono memulai dengan menekankan bahwa Balai Kota siap menjadi ruang yang hidup bagi kegiatan budaya, termasuk pengumpulan dan pembukuan cerita rakyat dari seluruh provinsi bersama anak-anak Jakarta. Baginya, cerita rakyat bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan fondasi karakter bangsa.

img_title Pramono Anung Temui Menteri Keuangan, Bahas Rencana Jakarta Terbitkan Obligasi Daerah

“Sebagai Gubernur Jakarta saya ingin cerita-cerita rakyat itu tidak hanya menjadi legenda masa lalu. Tetapi sebenarnya spiritnya, kejujurannya, kerja kerasnya, gotong royongnya, budayanya, etikanya, sopan santunnya, tutur katanya, dan sebagainya, inilah yang menguatkan cerita-cerita rakyat,” ujarnya di acara Festival Storytelling Cerita Rakyat Suara Nusantara 2025 yang digelar Navaswara di gedung Kemendikbud, Jakarta, baru-baru ini. 

img_title Pencari Kerja di Jakarta Bisa Dapat Kartu Transportasi Gratis, Ini Kriteria Penerima dan Syarat Mendapatkannya

Ia juga menyinggung beberapa legenda Nusantara seperti Timur Mak, Sangkuriang, Anjenong, dan Timun sebagai contoh kekayaan sastra lisan yang harus terus dihidupkan. Pramono bahkan membandingkannya dengan cerita populer internasional.

“Begitu tadi ditampilkan dari berbagai cerita rakyat seperti Timur Mak, Sangkuriang, Anjenong, Timun, kalau anak sekarang mungkin Harry Potter. Nah yang seperti inilah mari kita kembali kita hidupkan, karena legenda-legenda cerita rakyat ini luar biasa. Apalagi dengan arus gawai dan digital banyak sekali, kalau kita tidak hati-hati kita akan kehilangan identity,” pungkasnya. 

Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa identitas utama Jakarta sebagai daerah khusus — sesuai dengan Undang-undang Nomor 2 Tahun 2024 — berakar kuat pada budaya Betawi. Oleh karena itu, berbagai fasilitas publik kini mulai menampilkan ornamen dan simbol budaya Betawi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun pernyataan paling mencuri perhatian hadir ketika Pramono membahas soal ondel-ondel. Tidak seperti praktik yang sering ditemui di jalanan, ia menegaskan bahwa ikon budaya Betawi tersebut tidak seharusnya digunakan untuk mengamen.

“Dan saya termasuk yang berkeinginan yang namanya ondel-ondel itu tidak digunakan untuk ngamen, tapi ondel-ondel memang kita buat untuk menjadi geranda suatu budaya one melting pot, budaya campuran yang dimiliki oleh Betawi,” tegasnya. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut